SORONG, METROZONE-NET– Pelaku UMKM PAWAIBILI, Jhony Dawan, mengembangkan pangan lokal Papua berupa sagu menjadi produk olahan mie sagu di wilayah Aimas, Papua Barat Daya. Inovasi tersebut dilakukan sebagai upaya meningkatkan nilai ekonomi sekaligus memperkenalkan pangan lokal Papua dalam bentuk yang lebih modern, Jumat (28/8/2026).
Jhony Dawan mengatakan, sagu merupakan bagian penting dari kehidupan, budaya, dan sejarah masyarakat Papua. Melalui PAWAIBILI, ia mengolah sagu menjadi mie dengan empat varian, yakni original, buah naga, wortel, dan pokcoy.
Inovasi tersebut dinilai menunjukkan bahwa pangan tradisional dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tanpa menghilangkan identitas daerah. Pengolahan sagu menjadi mie juga membuka peluang agar pangan lokal Papua dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
Jhony menegaskan, inovasi tidak harus dimulai dari usaha besar. Menurutnya, keberanian mencoba, kemauan belajar, dan konsistensi menjadi kunci dalam mengembangkan potensi pangan lokal. “Kita juga pasti bisa,” menjadi semangat yang dibangun melalui usaha PAWAIBILI.

Selain mengembangkan produk, PAWAIBILI juga membuka ruang kolaborasi antara masyarakat Orang Asli Papua (OAP) dan non-OAP. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kebersamaan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal.
Jhony berharap inovasi berbahan dasar sagu terus dikembangkan melalui peningkatan kualitas, kemasan, pemasaran, kapasitas produksi, dan inovasi berkelanjutan sehingga memiliki peluang menjangkau pasar yang lebih luas.
Dari Papua untuk Indonesia, sagu bukan hanya warisan budaya, tetapi juga peluang ekonomi dan sumber inovasi bagi generasi muda Papua.
[Penulis: Edison Ambafen]
[Editor: Alex ]






