Oleh: *SUPRIONO*
Pepatah lama berkata: “Tak ada gading yang tak retak.” Kalimat sederhana ini kini terasa begitu dekat dengan keseharian kita, terutama di tengah pesta demokrasi yang sedang berlangsung di tanah kelahiran kita sendiri.
Di Kampung Noto Harjo, maupun di kampung-kampung tetangga, kita melihat sosok-sosok yang berdiri di muka umum, menyampaikan visi, memohon dukungan, dan berjanji membawa kemajuan. Wajah-wajah yang selama ini kita kenal, kini tampil dengan harapan dipercaya memegang tampuk pimpinan. Namun di saat yang sama, kita juga menyaksikan hal-hal yang mengganjal di hati.
Kita melihat cara pembagian bantuan yang tiba-tiba berubah. Program yang seharusnya dijalankan sesuai aturan, tiba-tiba dijalankan dengan cara yang terkesan mendekatkan diri kepada warga secara pribadi, tepat di saat yang bersamaan mencalonkan diri. Ada kesan seolah-olah bantuan yang bersumber dari uang negara itu adalah pemberian pribadi, bukan hak yang sudah menjadi milik warga.
Ketika hal-hal seperti ini terungkap, banyak yang kecewa. Padahal, inilah makna dari pepatah itu tak ada gading yang tak retak. Tidak ada pemimpin yang sempurna. Tidak ada langkah yang selalu bebas dari kekhilafan. Retak itu muncul bukan untuk dijadikan bahan saling menghancurkan, melainkan untuk dijadikan cermin perbaikan bersama.
Retak pada gading bukan berarti gading itu tidak berharga. Retak justru menjadi pengingat bahwa pemimpin itu hanyalah manusia biasa bisa lupa, bisa tergelincir, bisa tergoda oleh keinginan untuk diakui dan disukai. Yang membedakan pemimpin yang terhormat bukanlah ketiadaan kesalahan, melainkan sikap ketika kesalahan itu disadari: apakah menutup-nutupinya, atau berani mengaku dan memperbaikinya?
Kepada siapa pun yang sedang menjabat sekaligus mencalonkan diri, patut diingatkan: Kekuasaan itu titipan, bukan milik. Program pemerintah itu milik rakyat, bukan alat kampanye pribadi. Jika aturan diubah di tengah jalan hanya untuk meraih simpati, maka kepercayaan yang sudah dibangun lama-lama akan retak lebih dalam daripada yang disadari.
Dan kepada kita semua warga, retak yang tampak bukanlah alasan untuk membenci atau memecah belah. Melainkan alasan untuk bersuara dengan tegas: Kami memilih pemimpin yang jujur, bukan yang pandai memanfaatkan kesempatan. Kami ingin pemimpin yang menjaga amanah, bukan yang memakai amanah untuk kepentingan sendiri.
Tak ada gading yang tak retak. Tetapi retak itu bisa disatukan kembali dengan kejujuran, kerendahan hati, dan kesediaan untuk memperbaiki diri. Jika dibiarkan, retak kecil akan menjadi celah yang memisahkan kita. Jika diakui dan diperbaiki, maka gading itu tetap bisa bersinar, dan kampung kita tetap bisa berjalan maju bersama-sama.
Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan pemimpin yang sempurna melainkan pemimpin yang takut kepada Allah, jujur kepada rakyat, dan mampu menjaga amanah tanpa membeda-bedakan kepentingan.(Red)










