Pringsewu, Lampung, Metrozone.net –
Pekerjaan rekonstruksi ruas jalan Bulukarto‑Mataram senilai Rp7.455.977.117 bersumber DAU 2026 kembali menjadi sorotan terkait mutu kanstin barrier. Konsultan pengawas PT Manunggal Raksa Pratama menyatakan kanstin barrier seharusnya berasal dari pabrikan, bukan dicetak manual menggunakan molen kecil di lokasi, meskipun teguran kepada pelaksana tidak diindahkan. Hal ini terkonfirmasi dari percakapan WhatsApp redaksi bersama konsultan pengawas, Kamis (05/11/2026).
Berdasarkan data papan proyek, pekerjaan dikerjakan CV Salim Jaya Kontruksi dengan masa pelaksanaan 120 hari terhitung sejak kontrak tanggal 21 Agustus 2026. Redaksi mendokumentasikan sejumlah titik lokasi pada 2 November dan 5 November 2026 yang menunjukkan dugaan kejanggalan: proses pencetakan tanpa vibrator beton, penyimpanan semen dan agregat kurang terkontrol, tidak terlihat curing terstandar, serta kanstin barrier yang sudah terpasang ditemukan ada keropos (honeycomb), gompal, dipasang di atas adukan dasar tipis, bahkan ada yang diganjal batu dan kayu. Beberapa unit kanstin barrier rusak tetap terpasang meskipun secara teknis seharusnya ditolak.
Secara fungsi, kanstin barrier berperan sebagai penahan tepi perkerasan serta pengaman saluran drainase sehingga membutuhkan mutu beton presisi. Warga meminta Dinas PUPR Kabupaten Pringsewu selaku pemilik proyek turun melakukan pemeriksaan menyeluruh, meminta dokumen job‑mix design, sertifikat mutu, bukti persetujuan material dari konsultan pengawas, serta memungkinkan pengujian independen seperti hammer test atau core‑drill untuk memastikan kuat tekan beton. Apabila terbukti tidak memenuhi spesifikasi, warga meminta pekerjaan yang cacat dibongkar dan diganti sebelum pembayaran diproses.
Redaksi telah berupaya meminta tanggapan kepada pelaksana CV Salim Jaya Kontruksi dan Dinas PUPR Kabupaten Pringsewu guna menanggapi keseluruhan temuan lapangan, namun hingga berita terbit belum menerima pernyataan resmi. Redaksi tetap membuka ruang tanggapan kedua pihak untuk melengkapi isi berita ini.
(Epy/Red)




