Pringsewu, Lampung, Metrozone.Net, – Pemerintah Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung menggelar salat Istisqa di Lapangan Pemkab Pringsewu pada Jumat, 11 September 2026. Salat sunah dalam rangka meminta hujan ini dipimpin KH. Sujadi Saddat sebagai Imam dan Bupati Pringsewu H. Riyanto Pamungkas sebagai Khatib.
Turut hadir Wakil Bupati Pringsewu Umi Laila beserta jajaran Pemerintah Kabupaten Pringsewu. Hadir pula unsur Forkopimda dan tokoh masyarakat, diantaranya anggota DPRD Provinsi Lampung Syukron Muchtar, Ketua DPRD Pringsewu Suherman beserta para anggota DPRD, Kapolres Pringsewu AKBP Dadi Perdana Putra dan Wakapolres Kompol Samsuri, Dandim 0424, Kejari, Kepala Kemenag Pringsewu H. Khuzil Afwa Kahuripan beserta instansi vertikal lainnya, Ketua MUI KH. Hambali beserta para tokoh agama dan masyarakat, serta ratusan jamaah.
Dalam kesempatan tersebut juga diserahkan santunan dari BAZNAS kepada sejumlah anak yatim dan kaum dhuafa.
Bupati Pringsewu H. Riyanto Pamungkas selaku Khatib dalam khotbahnya mengatakan pelaksanaan salat Istisqa ini bukan karena manusia memiliki kekuatan, tetapi karena menyadari betapa lemahnya diri di hadapan Allah.
“Kita mengangkat tangan ke langit, bukan karena langit membutuhkan doa kita, tetapi karena kita yang membutuhkan rahmat Allah,” ujarnya.
Lebih lanjut Bupati menyampaikan keprihatinan atas kondisi alam saat ini. “Hari ini kita memandang langit yang sunyi, tanah yang kering, tanaman yang layu, sungai yang menyusut, dan sumur yang semakin dangkal. Kita menunggu tetesan air dari langit. Namun marilah kita bertanya kepada diri sendiri: jangan-jangan yang kering bukan hanya tanah kita, tetapi juga hati kita, yang tandus bukan hanya ladang kita, tetapi juga jiwa kita, yang perlu kita sirami bukan hanya sawah dan kebun, tetapi juga iman, taubat, dan amal saleh kita,” tegasnya.
Menurut Bupati, Allah seolah-olah mengajarkan bahwa ketika kehidupan terasa sempit, ketika langit seakan menutup pintunya, ketika bumi kehilangan kesuburannya, maka salah satu pintu pertama yang harus diketuk adalah pintu istighfar dan taubat.
“Mungkin selama ini kita terlalu sibuk meminta hujan, tetapi lupa meminta ampun, sibuk menunggu awan, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah. Atau berharap langit menurunkan air, sementara mata kita sendiri sudah lama tidak meneteskan air mata karena dosa,” katanya.
Di akhir khotbah, Bupati mengajak seluruh jamaah untuk pulang dengan tekad memperbaiki diri. “Marilah kita hidupkan kembali masjid, kita perbanyak sedekah, kita tinggalkan maksiat, kita jaga lisan, hormati orang tua, sayangi anak-anak yatim dan bantu orang miskin, kita berdamai dengan saudara dan perbanyak istighfar. Karena boleh jadi satu tetes air mata taubat yang jatuh dari mata seorang hamba lebih berarti di sisi Allah daripada ribuan kata yang keluar dari lisannya,” ajak Bupati Riyanto.
(Epy/Red)





