Proyek Dana Rp48,8 Miliar Jalan Banyumas-Way Kunyir Diapresiasi Warga, Drainase Tersumbat dan Gorong-gorong Swadaya Jadi Sorotan

 

Pagelaran Utara, Lampung, Metrozone.Net, –

Proyek Inpres Jalan Daerah / IJD ruas Banyumas – Way Kunyir di Kabupaten Pringsewu dengan dana Rp48,8 miliar menuai suka dan duka dari warga. Jalan baru yang sudah dicor beton dan bertuliskan “IJD 2025-2026” sangat diapresiasi karena mempermudah akses dan mobilitas warga. Namun di sisi lain, sistem drainase dan gorong-gorong justru menjadi keluhan besar.

Proyek dengan skema tahun jamak 2025-2026 ini menggunakan anggaran APBN dan dikerjakan oleh PT Bumi Lampung Persada / BLP dengan panjang penanganan sekitar 13,65 kilometer. Groundbreaking dilakukan Bupati Pringsewu H. Riyanto Pamungkas pada 30 Januari 2026. Targetnya untuk meningkatkan konektivitas, ekonomi, pendidikan, dan distribusi hasil pertanian warga Pagelaran Utara.

Berdasarkan pantauan di lapangan, badan jalan sudah rapi dan bisa dilalui kendaraan. Namun di bahu jalan, saluran drainase dan TPT terlihat tidak digali atau diperbaiki secara menyeluruh. Akibatnya aliran air tersumbat, menggenang, dan dipenuhi sampah plastik, ranting serta lumpur.

Yang lebih memprihatinkan, beberapa titik gorong-gorong di lokasi diduga dibuat secara swadaya oleh masyarakat setempat. Dari foto yang diterima redaksi, terlihat gorong-gorong dengan konstruksi sederhana, sebagian ditutup papan kayu dan batu. Kondisi ini menunjukkan kurangnya tanggung jawab dari pihak perusahaan pelaksana proyek PT Bumi Lampung Persada terhadap kelengkapan infrastruktur pendukung jalan.

Saat dikonfirmasi, warga setempat berinisial AS menyampaikan apresiasinya atas pembangunan jalan dengan dana Rp48,8 miliar tersebut. Namun ia menyayangkan kondisi drainase yang tidak berfungsi dengan baik.

“Kami sangat apresiasi adanya pembangunan jalan. Tapi untuk aliran air drainase masih kurang baik. Di lokasi terlihat aliran air tersumbat dan tidak mengalir dengan baik karena drainase atau TPT tidak digali baru,” ujarnya.

AS juga menyoroti gorong-gorong yang dibuat swadaya warga. “Itu gorong-gorong dibuat warga sendiri. Pihak perusahaan kurang bertanggung jawab. Kalau dibiarkan, nanti pas musim penghujan air bisa banjir masuk ke halaman warga,” tambahnya.

Dari hasil penelusuran, terlihat jelas gorong-gorong dalam kondisi tertutup sampah, tanah, dan material bangunan. Beberapa titik juga sudah retak dan tidak mampu menampung debit air. Warga khawatir badan jalan baru yang dibangun dengan anggaran besar ini akan cepat rusak jika drainase tidak segera dibenahi.

Warga berharap BPJN Lampung dan pihak PT Bumi Lampung Persada segera mengevaluasi proyek Rp48,8 miliar tersebut. Pembenahan drainase dan pembangunan gorong-gorong sesuai standar sangat dibutuhkan agar anggaran negara benar-benar bermanfaat dan tidak menimbulkan masalah baru, terutama saat musim hujan tiba.

(Epy/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *