Temuan Artefak Berbahan Emas Hebohkan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan,

Sumsel Metrozone.net — Penemuan sepasang benda yang diduga merupakan artefak berbahan emas menggegerkan warga Desa Prambatan, Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, Senin (10/3/2026).

Benda tersebut pertama kali ditemukan oleh seorang buruh perkebunan kelapa sawit saat tengah bekerja di area kebun. Saat ditemukan, benda itu tampak berwarna keemasan dengan bentuk menyerupai mahkota serta dihiasi butiran kecil yang menyerupai mutiara.

Dari bentuk dan ornamen yang terlihat, benda tersebut diduga memiliki kemiripan dengan atribut perhiasan atau mahkota yang sering dikaitkan dengan simbol budaya Buddha pada masa lampau.

Salah seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengatakan, temuan di lokasi tersebut bukanlah yang pertama kali terjadi. Menurutnya, sekitar tiga bulan lalu di area yang sama juga pernah ditemukan benda kuno yang diduga berbahan emas, meskipun dengan bentuk yang berbeda dari temuan terbaru ini.

“Sekitar tiga bulan lalu juga pernah ditemukan benda lama di lokasi itu. Bahannya juga diduga emas, tetapi bentuknya berbeda dengan yang sekarang,” ujarnya.

Secara historis, wilayah Kecamatan Abab memang dikenal sebagai salah satu kawasan yang kerap memunculkan temuan benda-benda kuno. Berdasarkan catatan serta cerita yang berkembang di masyarakat, sejumlah artefak bersejarah pernah ditemukan di wilayah tersebut.

Beberapa temuan yang pernah dilaporkan di antaranya berupa ribuan porselen kuno, keris, perhiasan emas, hingga batu giok yang diduga merupakan peninggalan masa lampau.

Sebagian kalangan meyakini berbagai benda tersebut berkaitan dengan aktivitas perdagangan maupun peradaban Kerajaan Sriwijaya yang pernah berkembang di kawasan Sumatera bagian selatan pada masa lampau.

Berbagai temuan itu dinilai menjadi indikasi bahwa wilayah Abab memiliki potensi besar sebagai kawasan yang menyimpan jejak sejarah penting. Meski demikian, hingga saat ini sebagian besar penemuan masih bersifat sporadis dan belum seluruhnya terdokumentasi secara ilmiah.

Tim Red  ;

(Endang Rajo Alam)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *