PAM GKI Baithel Deer-Kofiau Mantapkan Latihan Suling Tambur Jelang Wisata Rohani ke Manado

SORONG, METROZONE-NETPersekutuan Anggota Muda (PAM) Jemaat GKI Baithel Deer-Kofiau kembali menggelar pelatihan dan pemantapan suling tambur untuk kedua kalinya sebagai bagian dari persiapan kunjungan wisata rohani ke Manado dan Tondei, Minahasa. Latihan tersebut berlangsung pada.” Kamis (27/8/2026).

Dalam latihan tersebut, para anggota muda memantapkan kekompakan permainan suling, ketepatan irama tambur, serta berbagai variasi toki tambur yang akan ditampilkan pada kegiatan wisata rohani.

Pelatihan dipimpin langsung oleh Mayorit Elkanus Ambafen. Ia memberikan arahan dan bimbingan kepada peserta sekaligus mengembangkan variasi permainan tambur agar penampilan kontingen semakin kompak, meriah, dan mampu menciptakan suasana penuh sukacita.

“Latihan ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan penampilan kontingen agar seluruh anggota mampu menjaga tempo, irama, kekompakan, dan semangat bersama,” tegas Elkanus.

Ia menambahkan, kegiatan latihan bukan hanya bertujuan meningkatkan kemampuan bermusik, tetapi juga membangun kebersamaan, kedisiplinan, tanggung jawab, serta semangat pelayanan di antara anggota muda Jemaat GKI Baithel Deer-Kofiau.

Kunjungan wisata rohani ke Manado dan wilayah Tondei, Minahasa, diharapkan menjadi momentum untuk mempererat persekutuan, memperkuat iman dan kerohanian, serta membangun hubungan persaudaraan dengan jemaat dan peserta dari daerah lain. Kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengenal budaya dan kehidupan masyarakat di daerah tujuan.

Melalui pelayanan suling tambur, kontingen GKI Baithel Deer-Kofiau diharapkan dapat membawa kesaksian iman sekaligus memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Papua dalam suasana persekutuan yang penuh sukacita.

Akhirnya, seluruh proses persiapan diharapkan berjalan lancar sehingga para anggota muda tetap semangat, disiplin, dan kompak hingga hari pelaksanaan. Kontingen pun diharapkan mampu memberikan penampilan terbaik dalam kunjungan wisata rohani di Manado dan Tondei, Minahasa.

[Penulis:Edison Ambafen]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *