Menanam Harapan di Tanah Kampus: Cara LPPM UBB Memaknai Hari Lingkungan Hidup Sedunia

BANGKA — Di tengah berbagai isu perubahan iklim yang semakin nyata, dari cuaca ekstrem hingga menurunnya kualitas lingkungan, sebuah langkah sederhana kembali mengingatkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari tindakan kecil.

Pagi itu, suasana di kawasan gedung baru Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bangka Belitung (UBB) terlihat berbeda. Bukan karena adanya seminar, diskusi akademik, atau peluncuran hasil penelitian terbaru. Sejumlah dosen, tenaga kependidikan, dan pengelola lembaga justru berkumpul membawa cangkul, bibit pohon, dan semangat yang sama: menghijaukan lingkungan kampus.

Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia dimaknai LPPM UBB bukan sekadar melalui slogan atau kampanye di media sosial. Mereka memilih turun langsung ke lapangan, menanam pohon di sekitar gedung baru yang nantinya menjadi pusat aktivitas riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Di balik kegiatan yang tampak sederhana itu tersimpan pesan yang lebih dalam. Pohon-pohon yang ditanam bukan hanya untuk mempercantik kawasan kampus. Ia menjadi simbol tentang bagaimana dunia akademik seharusnya tumbuh.

Gedung baru LPPM hadir sebagai representasi kemajuan. Di dalamnya akan lahir berbagai penelitian, gagasan, dan inovasi yang diharapkan memberi manfaat bagi masyarakat. Namun kemajuan itu, menurut para pengelola LPPM, tidak boleh berjalan dengan mengabaikan lingkungan yang menjadi ruang hidup bersama.

Karena itulah, penanaman pohon dipilih sebagai simbol bahwa pertumbuhan ilmu pengetahuan harus tetap berakar pada kesadaran ekologis. Inovasi yang berkembang tidak boleh tercerabut dari tanggung jawab menjaga bumi.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas melalui kerja sama Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri (BKS PTN) Wilayah Barat. Melalui kolaborasi itu, perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai motor penggerak kesadaran lingkungan.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap dampak pemanasan global, kampus memiliki posisi strategis. Kampus bukan sekadar tempat mencetak lulusan, melainkan ruang yang membentuk cara pandang generasi masa depan. Apa yang dilakukan hari ini di lingkungan kampus akan memengaruhi cara mahasiswa memandang hubungan manusia dengan alam pada masa mendatang.

Penanaman pohon di kawasan gedung baru LPPM UBB menjadi pengingat bahwa keberlanjutan bukan hanya konsep yang dibahas dalam jurnal ilmiah atau ruang kuliah. Keberlanjutan harus hadir dalam tindakan nyata, sekecil apa pun bentuknya.

Beberapa tahun ke depan, bibit-bibit yang ditanam itu mungkin akan tumbuh menjadi pohon rindang yang menaungi aktivitas sivitas akademika. Mahasiswa berjalan di bawahnya menuju ruang kuliah. Dosen berdiskusi di sekitarnya. Burung-burung kembali singgah di kawasan yang semakin hijau.

Saat itulah makna sesungguhnya dari kegiatan ini akan terlihat. Bahwa apa yang ditanam hari ini bukan hanya pohon, melainkan juga harapan.

Harapan agar kampus tetap menjadi ruang yang harmonis antara ilmu pengetahuan dan alam. Harapan agar generasi muda tumbuh dengan kesadaran bahwa kemajuan tidak selalu diukur dari tingginya bangunan atau banyaknya teknologi, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan dengan lingkungan.

Di Hari Lingkungan Hidup Sedunia, LPPM UBB memilih menyampaikan pesan itu bukan melalui pidato panjang, melainkan melalui tanah yang digali, bibit yang ditanam, dan komitmen untuk merawatnya. Sebab pada akhirnya, bumi tidak membutuhkan janji. Bumi membutuhkan tindakan.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *