PAPUA, METROZONE-NET– Dr. Thomas Wapai Wainggai merupakan intelektual, akademisi, dan tokoh politik Papua yang lahir pada 5 Desember 1937. Perjalanan hidupnya mencakup pendidikan di Jepang dan Amerika Serikat, kehidupan keluarga bersama istrinya, Teruko Wainggai, hingga keterlibatan dalam sebuah gerakan politik di Papua pada akhir 1980-an.”Sabtu (29/8/2026).
Thomas menempuh pendidikan hukum di Jepang sebelum melanjutkan studi di Amerika Serikat. Ia mengikuti program Fulbright di State University of New York at Albany dan kemudian meraih gelar doktor dari Florida State University.
Saat berada di Jepang, Thomas menikah dengan Teruko, seorang warga negara Jepang. Sekitar 1985, Thomas bersama Teruko dan tiga anak mereka kembali ke Jayapura. Setelah itu, Thomas bekerja sebagai staf ahli pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Irian Jaya yang kini jadi Propinsi Papua (Jayapura).
Kehidupan keluarga tersebut berubah pada 14 Desember 1988 ketika Thomas, Teruko, dan sejumlah pendukung mengikuti sebuah upacara di Jayapura yang dimaksudkan kelompok mereka untuk memproklamasikan negara yang disebut “West Melanesia.”Dalam peristiwa tersebut, Teruko disebut turut berperan menjahit bendera yang digunakan dalam upacara.
Setelah peristiwa itu, Thomas dan Teruko ditangkap dan kemudian menjalani proses hukum berdasarkan Undang-Undang Antisubversi. Berdasarkan catatan Amnesty International, Thomas dijatuhi hukuman 20 tahun penjara, sementara Teruko dijatuhi hukuman delapan tahun. Teruko kemudian dibebaskan pada November 1993 setelah menjalani sekitar lima tahun masa tahanan.
Pada Januari 1990, Thomas dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta, sedangkan Teruko ditempatkan di penjara perempuan Tangerang. Kondisi tersebut membuat pasangan suami-istri itu menjalani hukuman secara terpisah dan jauh dari keluarga mereka di Papua.
Thomas tetap berada dalam tahanan hingga meninggal dunia di Lapas Cipinang pada 12 Maret 1996 dalam usia 59 tahun. Amnesty International mencatat bahwa Thomas diyakini meninggal akibat kanker lambung.
Kisah Thomas dan Teruko tidak hanya menggambarkan perjalanan sebuah keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah politik Papua pada akhir dekade 1980-an. Perjalanan keduanya memperlihatkan persinggungan antara pendidikan, kehidupan keluarga, keyakinan politik, penahanan, serta konsekuensi yang dihadapi atas pilihan politik mereka.
Kisah tersebut menjadi salah satu catatan sejarah mengenai perjalanan politik Papua dan kehidupan keluarga yang berada di tengah dinamika politik pada masa itu.” Akhirnya.
[Alex Umpain]




