PANGKALPINANG — Antrean panjang pengisian bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU masih menjadi keluhan masyarakat. Selain harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengantre, warga yang tidak mendapatkan BBM di SPBU terpaksa membeli secara eceran dengan harga lebih tinggi.
Seorang warga yang ditemui saat mengantre mengatakan kondisi antrean panjang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Ia berharap distribusi BBM kembali normal sehingga waktu tunggu di SPBU tidak terlalu lama.
“Harapannya normal. Minimal kalau memang harus ngantre paling 10 menit. Ini sampai berjam-jam seperti ini mengganggu waktu aktivitas kita. Harapannya pemerintah memperhatikan ini,” ujarnya.
Menurut dia, membeli BBM di toko eceran menjadi pilihan ketika sudah dalam kondisi terpaksa. Namun, harga yang harus dibayar lebih mahal dibandingkan harga resmi di SPBU.
Ia menyebut harga BBM eceran saat ini masih ditemukan sekitar Rp14.000 per liter, sementara harga Rp13.000 per liter mulai sulit ditemukan apalagi Rp 12.000.
“Kalau sekarang Rp14.000 dan Rp 13.000 di eceran nemu,” katanya.
Bahkan, dalam kondisi antrean yang lebih parah sebelumnya, ia mengaku pernah menemukan BBM eceran dengan harga hingga Rp20.000 per liter.
SPBU Sebut Stok Terus Masuk
Sementara itu, pihak SPBU melalui bagian administrasi, Sudianto, menyatakan stok BBM sebenarnya cukup dan pasokan dari Pertamina terus masuk secara bertahap.
Pengiriman disebut bervariasi, mulai dari 16 ton, 24 ton hingga 32 ton, tergantung pasokan yang dikirim Pertamina. Setelah BBM masuk dan disalurkan, stok kemudian kembali diisi secara bertahap.
Operasional SPBU dimulai pukul 06.00 WIB. Khusus BBM jenis Solar, pelayanan dimulai lebih awal, yakni pukul 05.00 WIB sesuai arahan yang diterima pihak SPBU.
Untuk pengisian kendaraan, SPBU menerapkan pembatasan sesuai ketentuan Pertamina. Setiap kendaraan dibatasi maksimal Rp300.000 dan transaksi dilakukan menggunakan pemindaian barcode.
Sudianto juga membantah adanya praktik “pengerit” di SPBU tersebut.
Menurutnya, antrean panjang lebih dipengaruhi kekhawatiran konsumen yang memilih datang dan mengantre karena khawatir tidak mendapatkan BBM.
Pengawasan terhadap pelayanan juga dilakukan Pertamina melalui CCTV. Apabila ditemukan petugas maupun pihak lain yang melanggar ketentuan, sanksi dapat diberikan secara tegas.
Sementara warga yang diwawancarai menilai praktik pengisian berulang oleh sebagian orang, apabila memang terjadi, berpotensi memperpanjang antrean.
“Karena banyak pengerit, mungkin seperti itu dampaknya,” katanya.
Kondisi tersebut membuat persoalan antrean BBM tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan stok, tetapi juga menyangkut pola distribusi, kepatuhan terhadap pembatasan pengisian serta perilaku konsumen di lapangan.
Warga berharap pasokan dan pelayanan BBM kembali stabil sehingga antrean dapat dipangkas dan masyarakat tidak perlu beralih membeli BBM eceran dengan harga yang lebih tinggi.





