PKA Ke-8 di Kota Banda Aceh: Lomba Peuayon Aneuk Aceh Barat Raih Juara

Berita157 Dilihat

Banda Aceh (Metrozone.net) – Kota Banda Aceh menjadi saksi dari keseruan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang memunculkan kegembiraan dan semangat kebanggaan dari peserta dan penonton yang hadir.

Salah satu momen paling mencolok dari festival tersebut adalah Lomba Peuayon Aneuk, yang diikuti oleh peserta-peserta penuh semangat dari berbagai penjuru Aceh. Kamis (9/11/2023).

Perwakilan dari Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Jaya, bersaing dengan penuh semangat dalam upaya mempersembahkan yang terbaik dari budaya dan seni tradisional mereka.

Perjuangan sengit antar peserta mencapai puncaknya ketika Irhamna Devi Muliani (30), yang mewakili Kabupaten Aceh Barat, tampil gemilang walaupun harus puas dengan gelar juara harapan dengan nilai luar biasa sebesar 389 dikalahkan oleh peserta dari Kabupaten Aceh jaya dengan nilai tertinggi 447 dengan meraih gelar Juara I (satu).

Irhamna Devi Muliani menunjukkan keberanian dan semangat yang menginspirasi banyak orang di sekitarnya, dan ini adalah pementasan yang pertama kalinya ia ikut dalam Lomba Peuayon Aneuk.

“Pengalaman ini akan menjadi pelajaran berharga bagi saya. Saya akan belajar lebih giat lagi ke depannya, ini penampilan saya yang perdana dalam hal perlombaan Peuayon Aneuk.” Ucapnya.

Melalui PKA Ke-8 di Kota Banda Aceh, masyarakat Aceh kembali mengukir sejarah yang gemilang dalam melestarikan kekayaan budaya dan seni tradisional mereka.

Dengan semangat dan antusiasme yang menggelora, acara ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan semata, tetapi juga sebagai wahana untuk memperkuat rasa kebersamaan dan kecintaan terhadap warisan budaya yang kaya dan beragam di Negeri Serambi Mekah.

Dewan Juri Lomba Peuayon Aneuk, Buni Yamin (Nek Min), memberikan penjelasan tentang kriteria penilaian yang menjadi fokus dalam lomba tersebut. Menurutnya, akurasi, peragaan, dan isi syair yang didendangkan harus mencerminkan nilai-nilai syariat menjadi beberapa poin penting yang diperhatikan.

“Dalam lomba Peuayon Aneuk yang dinilainya akurasi masalah jelas bahasa dan peragaan, bagaimana cara menggendong dan mengangkat anak kedalam ayoen, dan mukadimah serta syair bernuansa nasehat” jelasnya

Dalam hal akurasi, masalah kejelasan bahasa dan peragaan menjadi sorotan, termasuk bagaimana cara menggendong dan mengangkat anak ke dalam ayoen. Selain itu, mukadimah dan syair yang dipilih harus membawa nuansa nasehat yang mendalam.

Sebanyak 21 dari 23 Kabupaten/Kota yang mendaftar ikut serta dalam perlombaan Peuayon Aneuk hanya Kabupaten Aceh Tengah yang tidak ada konfirmasi kehadirannya sampai acara selesai, Jelas Buni Yamin

(Almanudar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *