Pringsewu, Lampung, Metrozone.net, —
Pemerintah Kabupaten Pringsewu terus berupaya mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah anak. Melalui Bimbingan Teknis Pendampingan, Penanganan dan Pencegahan Kekerasan, Perundungan dan Intoleransi Jenjang Sekolah Dasar Tahun 2026, Pemkab mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mewujudkan Pringsewu bebas dari bullying.
Kegiatan yang diikuti para Kepala Sekolah Dasar negeri dan swasta se-Kabupaten Pringsewu tersebut dibuka langsung oleh Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas di Hotel Urban Pringsewu, Senin, 12 Oktober 2026.
Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB), serta dari unsur Kepolisian dan Kejaksaan.
Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas dalam arahannya mengatakan, perundungan atau bullying bisa terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari ejekan, pengucilan, hingga kekerasan fisik, termasuk perundungan di media sosial.
Menurutnya, bullying sering dianggap sekadar candaan atau kenakalan biasa, padahal persoalan ini berkaitan erat dengan kesehatan mental anak-anak. Data menunjukkan masalah kesehatan mental pada Gen Alpha jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.
“Pada Gen X angkanya 15 persen, generasi Milenial 23 persen, Gen Z 42 persen, dan pada Gen Alpha mencapai 48 persen. Artinya masalah kesehatan mental pada Gen Alpha 3,2 kali lebih tinggi dibanding Gen X,” ujar Bupati Riyanto.
Bupati menjelaskan, Gen Alpha adalah anak-anak saat ini mulai dari usia PAUD hingga SD dan SMP. Mereka tumbuh bersama gawai dan media sosial dengan tekanan yang berbeda dari masa kecil sebelumnya. Jika tidak hati-hati, perundungan baik di sekolah maupun di dunia maya dapat memperberat kondisi kesehatan mental anak.
Dari sisi psikologis, berdasarkan berbagai penelitian, dampak perundungan tidak berhenti di masa sekolah. Menurut ilmuwan psikologi Erik Erikson, anak usia 6 sampai 12 tahun berada pada tahap mampu versus minder, sehingga jika mengalami perundungan akan berdampak panjang pada rasa percaya diri anak.
Melalui bimtek ini, Pemkab Pringsewu berharap para kepala sekolah mampu menjadi garda terdepan dalam melakukan pencegahan, pendampingan dan penanganan kasus kekerasan, perundungan dan intoleransi di lingkungan sekolah masing-masing.
(Epy/Red)



