MEULABOH (Metrozone.net) – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Langkah nyata ini dibuktikan melalui partisipasi aktif dalam kegiatan “Plogging Warrior: Aksi Bakti untuk Bumi 2026” yang berpusat di kawasan ikonik Tugu Kupiah Meukeutop, Batee Puteh, pada Sabtu (27/6/2026).
Kegiatan yang mengusung tema besar “Now for Climate” ini diinisiasi oleh PT Mifa Bersaudara dan PT Bara Energi Lestari (BEL), yang berkolaborasi dengan komunitas peduli lingkungan nasional, Pandawara Group.
Hadir langsung dalam acara tersebut, Bupati Aceh Barat, Tarmizi, SP, MM, didampingi Plt Sekda Dr. Kurdi serta jajaran perwakilan Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK).
Dalam arahannya, Bupati Tarmizi menekankan bahwa kepedulian terhadap lingkungan di Aceh Barat bukan sekadar mengejar penghargaan seremonial.
”Meskipun penghargaan Adipura tidak lagi menjadi pembahasan utama pasca rentetan bencana hidrometeorologi yang melanda, Pemkab Aceh Barat tetap konsisten membangun budaya hidup bersih. Ini adalah tanggung jawab moral kita bersama untuk bumi,” tegas Tarmizi.
Guna memperkuat komitmen tersebut, gerakan gotong royong yang rutin dilaksanakan setiap hari Jumat akan terus ditingkatkan intensitasnya. Tarmizi juga mengimbau masyarakat untuk mulai bertransformasi ke gaya hidup ramah lingkungan (green lifestyle), salah satunya dengan mengurangi emisi karbon dari kendaraan bermotor.
”Jangan sedikit-sedikit menggunakan kendaraan bermotor. Mari kita biasakan kembali bersepeda atau berjalan kaki untuk perjalanan jarak dekat. Ini adalah langkah kecil yang berdampak besar bagi kesehatan diri dan keberlanjutan lingkungan,” tambahnya.
Sebagai langkah konkret penanganan kebersihan yang menyasar area krusial, Bupati Tarmizi menginstruksikan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Aceh Barat untuk membentuk tim khusus yang berfokus pada pembersihan saluran drainase serta titik-titik yang sulit dijangkau oleh petugas kebersihan reguler.
Inovasi ini diadopsi dari keberhasilan Pasukan Oranye di DKI Jakarta dalam menjaga estetika dan sistem tata air ibu kota. Di Aceh Barat, tim taktis ini resmi dinamakan Pasukan Merah. Anggota Pasukan Merah akan disaring secara ketat agar mendapatkan personel yang tangguh.
Untuk menunjang performa di lapangan, mereka akan dibekali pelatihan kedisiplinan khusus di bawah bimbingan Korem atau Kodam, dan siap diterjunkan dalam berbagai kondisi medan, khususnya penormalan saluran air demi mencegah potensi banjir luapan.
Di samping itu, Bupati juga melemparkan gagasan untuk meningkatkan kapasitas dan kedisiplinan para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Berkaca pada pengalamannya mengikuti pendidikan bergaya militer di Magelang pada awal masa jabatan, ia mempertimbangkan untuk menerapkan program serupa bagi para aparatur pemerintah setempat guna menguatkan mentalitas kepemimpinan dan eksekusi program di lapangan.
Puncak acara ditandai dengan pengukuhan resmi Pasukan Merah Pemerintah Kabupaten Aceh Barat oleh Bupati Tarmizi. Pasukan ini diproyeksikan menjadi garda terdepan dalam aksi pembersihan saluran air secara terkoordinasi, masif, dan berkelanjutan.
Usai prosesi pengukuhan, agenda langsung dilanjutkan dengan aksi nyata di lapangan. Bupati Aceh Barat bersama unsur forkopimda, manajemen perusahaan, komunitas Pandawara Group, serta ratusan masyarakat bahu-membahu melakukan aksi plogging (joging santai sambil memungut sampah) dan gotong royong massal di sejumlah titik strategis kawasan Kota Meulaboh.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan menjadi pemantik kesadaran kolektif yang lebih besar bagi seluruh warga Aceh Barat dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan daerah (**)
(Almanudar)







