Warga Lingkungan Setempat Resah Akibat Aktivitas Bacthing Plant, Desak Evaluasi Proyek Rp 23,9 M Preservasi Ruas Jalan Kalirejo – Pringsewu

 

Pringsewu, Lampung, Metrozone.net, — Warga Pekon Sukoharjo 3, Kabupaten Pringsewu, Lampung mengeluhkan aktivitas Batching Plant pada proyek Preservasi Ruas Jalan Kalirejo – Pringsewu senilai Rp.23,9 Miliar. Operasional yang berlangsung hingga malam hari dinilai mengganggu kenyamanan, kesehatan, dan kebersihan rumah warga. Jum’at (24/07/2026)

Keluhan tersebut disampaikan langsung oleh salah seorang warga kepada awak media ini, disertai dengan video dokumentasi kegiatan pengelolaan Batching Plant di lokasi. Dalam video terlihat aktivitas truk mixer dan alat berat masih beroperasi pada malam hari dengan kondisi berdebu dan minim penutup.

Berdasarkan pantauan di lapangan, lokasi Batching Plant berada di area padat penduduk dengan jarak hanya sekitar 20 hingga 50 meter dari pemukiman warga. Debu semen yang beterbangan setiap kali proses produksi berlangsung membuat rumah warga menjadi kotor dan menimbulkan gangguan pernapasan.

Warga mengaku paling terganggu saat aktivitas pengelolaan Batching Plant dilakukan pada malam hari. Suara bising mesin, lampu sorot yang menyilaukan, serta debu yang mengepul membuat warga tidak bisa beristirahat dengan tenang.

“Kami resah pak. Debunya masuk ke rumah, jemuran jadi kotor semua. Malam-malam juga berisik, anak-anak susah tidur,” ujar salah satu warga yang tidak ingin disebutkan namanya.

Kekhawatiran warga semakin besar karena paparan debu semen dikhawatirkan berdampak pada kesehatan. Menurut informasi dari warga, sudah ada dua orang yang dirawat di puskesmas terdekat diduga akibat dampak debu tersebut. Warga juga khawatir jika kondisi ini dibiarkan terus menerus dapat memicu penyakit pernapasan hingga TBC di lingkungan mereka.

Menanggapi keluhan tersebut, warga mendesak pihak pelaksana proyek dan dinas terkait untuk segera mengevaluasi keberadaan dan operasional Batching Plant di Pekon Sukoharjo 3.

“Kami minta Batching Plant dipindahkan ke tempat yang jauh dari pemukiman. Kalau tidak bisa, minimal ada penyemprotan air, penutup, dan pembatasan jam operasional. Jangan sampai pembangunan jalan justru mengorbankan kesehatan kami,” ungkap perwakilan warga.

Warga juga meminta Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, dan Puskesmas setempat untuk turun melakukan pengecekan kesehatan warga di sekitar lokasi. Hal ini penting untuk memastikan tidak ada dampak serius terhadap kesehatan masyarakat akibat paparan debu semen dalam jangka panjang.

Warga berharap ada dialog antara masyarakat, pelaksana proyek, dan pemerintah daerah untuk mencari solusi terbaik. Pembangunan tetap didukung, namun tidak boleh mengabaikan kesehatan dan kenyamanan warga.

“Demikian aspirasi kami. Kami hanya ingin hidup sehat dan tenang di rumah sendiri,” tutup warga.

(Team/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *