ACEH BARAT (Metrozone.net) – Masa depan SMAN 1 Woyla Timur menjadi sorotan tajam dalam forum Focus Group Discussion (FGD) yang digelar oleh Pemerintah Kecamatan Woyla Timur baru-baru ini. Di tengah upaya mencari solusi atas minimnya minat siswa baru untuk mendaftar di sekolah tersebut, muncul kritik dari tokoh muda wilayah setempat terkait pentingnya sinergi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat guna menyelamatkan institusi pendidikan di daerah tersebut.
Dalam pernyataannya, Tokoh muda Woyla, T. Ediman Syahputra, SH, menekankan bahwa kemajuan pendidikan tidak bisa dipikul oleh satu pihak saja. Ia mengingatkan bahwa pendidikan yang berhasil wajib ditopang oleh tiga unsur utama: Sekolah, Guru, serta peran serta Orang Tua dan Masyarakat.
”Pendidikan kita membutuhkan dukungan tiga pilar yang kokoh. Sekolah dan Guru sudah berjuang di lini depan, namun tanpa peran serta aktif orang tua dan masyarakat, upaya ini akan pincang. Kita harus sadar, kalau bukan kita yang membangun daerah kita sendiri, lalu siapa lagi?” ujar Ediman dengan nada retoris, Sabtu (2/5-2026)
Ia menyayangkan narasi dalam forum FGD yang terkesan kurang mengekspos dedikasi para guru SMAN 1 Woyla Timur yang selama ini telah berjibaku melakukan promosi secara mandiri baik melalui spanduk dan media sosial maupun mendatangi langsung ke pihak sekolah SMP di wilayah kecamatan Woyla Timur
Tidak hanya sekadar melontar kritik, Ediman juga menuntut langkah konkret dari unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika). Ia mendesak agar pemerintah kecamatan tidak hanya berhenti pada diskusi seremoni, tetapi melahirkan kebijakan yang memihak pada keberlangsungan sekolah lokal.
”Muspika sudah selayaknya memberikan dukungan nyata, bukan sekadar kata-kata. Kami mendesak Camat dan unsur Muspika lainnya untuk mengeluarkan Surat Edaran (SE) yang menghimbau agar orang tua yang berdomisili di Kecamatan Woyla Timur memprioritaskan anak-anak mereka bersekolah di sekolah yang ada di wilayah kita sendiri,” tegas Ediman.
Menurutnya, surat edaran tersebut akan menjadi bentuk keberpihakan moral dan politis yang kuat untuk membangkitkan kembali marwah pendidikan di Woyla Timur.
Berbanding terbalik dengan pesimisme yang sempat muncul, pihak sekolah justru menunjukkan komitmen nyata. Berdasarkan hasil diskusi dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 1 Woyla Timur sekolah telah menyiapkan program stimulan bagi calon peserta didik,” sebut Ediman
Lanjutnya, sebagai bentuk apresiasi dan upaya meringankan beban ekonomi keluarga, SMAN 1 Woyla Timur berkomitmen memberikan satu pasang pakaian batik secara GRATIS bagi setiap siswa baru yang mendaftar pada tahun ajaran ini.
”Ini bukti nyata bahwa sekolah tidak diam. Guru-guru kita sudah memberikan ‘sinyal’ melalui promosi hingga insentif seragam gratis dari kantong kebijakan sekolah sendiri. Sekarang pertanyaannya, sejauh mana dukungan nyata kita sebagai pemerintah untuk menyambut tangan terbuka mereka?” tambahnya.
Dengan adanya program seragam gratis dan dukungan kebijakan yang diharapkan dari Muspika, diharapkan lulusan SMP di wilayah Woyla Timur tidak lagi melirik sekolah di luar daerah. Menurutnya,
sinergi antara pemerintah yang suportif, guru yang berdedikasi, dan masyarakat yang peduli menjadi kunci utama agar SMAN 1 Woyla Timur kembali berjaya.
Menurut Ediman, dedikasi para guru harus dilihat sebagai jaminan kualitas, meski tantangan infrastruktur seperti akses jembatan masih membayangi wilayah tersebut (*)
Penulis: Almanudar













