Meulaboh (Metrozone.net) – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat resmi memulai langkah agresif dalam penanganan sampah di wilayah perkotaan.
Dengan mengusung konsep kemitraan dan pemberdayaan masyarakat, DLH Aceh Barat menargetkan perubahan perilaku warga dalam mengelola sampah dalam kurun waktu tiga bulan ke depan.
Kepala DLH Aceh Barat, Dr. Kurdi, menyatakan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan warga menjadi kunci utama dalam mengatasi lonjakan volume sampah, khususnya di Kecamatan Johan Pahlawan. Saat ini, kata Kurdi, produksi sampah di wilayah tersebut mencapai 28 ton per hari, dan melonjak hingga 35 ton pada hari raya.
”Fokus utama kita saat ini adalah wilayah dengan volume sampah tinggi seperti Gampong Drien Rampak, Pasir, Kota Padang, Seneubok, hingga Lapang. Kita ingin mendorong perubahan perilaku melalui program kemitraan agar sampah tidak lagi menjadi beban yang hanya menumpuk di pinggir jalan,” ujar Kurdi, Senin (30/3/2026).
Dalam program ini, kata Kurdi, DLH Aceh Barat melibatkan satuan tugas (satgas) dan relawan di tingkat desa untuk mengedukasi warga memilah sampah langsung dari sumbernya, yaitu rumah tangga.
Menariknya, program ini menawarkan insentif ekonomi bagi masyarakat melalui skema kerja sama yang disusun, dimana hasil pengelolaan sampah akan dibagi dengan proporsi 35 persen untuk pengelola di tingkat desa (seperti BUMDes atau kelompok swadaya) dan 65 persen masuk ke DLH Aceh Barat,” terang Kurdi
“Masyarakat yang mau memilah sampah bisa mendapatkan keringanan retribusi. Sampah yang dipilah memiliki nilai ekonomi yang bisa dijual kembali melalui bank sampah,” Saat ini, kata dia, DLH Aceh Barat telah membina 11 unit bank sampah, termasuk tiga bank sampah induk yang didukung dana CSR.
Berdasarkan data DLH Aceh Barat, jelas Kurdi, komposisi sampah di Aceh Barat didominasi oleh sampah organik (60%) dan plastik (30%). Untuk menangani hal tersebut, Pemerintah Daerah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp2 miliar untuk pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
Kurdi menambahkan bahwa fasilitas ini nantinya akan dilengkapi dengan mesin pencacah otomatis dan sistem pengolahan kompos yang lebih modern.
Meski infrastruktur disiapkan, Kurdi mengakui tantangan terbesar adalah mengubah pola pikir masyarakat yang masih terbiasa membuang sampah sembarangan.
Namun, kami tetap optimis dengan peningkatan frekuensi pengangkutan di jalur-jalur utama yang kini mulai berjalan maksimal. “Kita targetkan dalam tiga bulan sudah ada perubahan pola di tingkat desa. Dalam enam bulan hasilnya akan mulai terlihat, dan dalam satu tahun program ini diharapkan bisa kita perluas ke seluruh wilayah Aceh Barat,” demikian Kurdi
(Almanudar)






