Semarak Maulud Nabi: Arak-arakan Kembang Endhog Memeriahkan Dusun Karajan Karangbendo Desa Gladag

Banyuwangi, Metrozone.net- Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Dusun Krajan Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, berlangsung sangat meriah dan khas. Perayaan ini diwarnai dengan tradisi Kirab Kembang Endhog, warisan budaya asli masyarakat Osing yang terus dijaga dan dilestarikan turun-temurun, Jumat, 11/9/2026.

Tradisi Kembang Endhog pertama kali digagas oleh KH. Abdullah Faqih, salah satu murid ulama besar Syaikhona Kholil dari Bangkalan, pada tahun 1926. Awalnya tradisi ini dimaksudkan sebagai sarana dakwah sekaligus memperkuat persatuan umat di masa penjajahan agar warga tampak bersatu dan mengintimidasi pihak penjajah. Kini, tradisi ini telah menjadi identitas budaya keagamaan masyarakat Banyuwangi yang digelar setiap tanggal 12 Rabiul Awal.

Proses Pembuatan Kembang Endhog dimulai dari kerja sama warga:
-Telur ayam direbus hingga matang.
-Dihiasi dengan kertas warna-warni menyerupai kelopak bunga.
-Ditusuk pada lidi atau bambu kecil, lalu ditancapkan pada jodang batang pohon pisang yang telah dibersihkan dan dihias cantik.
-Jumlah kembang endhog dalam satu jodang bervariasi: 30, 35, 45, hingga 100 buah.
-Seluruh proses pembuatan dilakukan secara gotong royong oleh warga Dusun Karangbendo Desa Gladag.

Acara dimulai sekitar pukul 13.30 WIB dari halaman Mushola. Sebelum berangkat, warga berkumpul untuk membaca Barzanji, zikir, dan doa bersama. Ratusan peserta anak-anak, remaja, hingga para sesepuh berjalan beriringan membawa jodang berisi kembang endhog berkeliling jalan desa sejauh kurang lebih 1 kilometer.

Pawai diiringi alunan rebana, terbangan, dan drum band serta Horeg yang memainkan sholawat nabi dan alunan musik. Sebagian peserta mengenakan pakaian muslim rapi, sebagian lainnya tampil dengan busana adat Osing yang menambah keindahan pawai. Warga di sepanjang jalan tampak menyambut dengan senyum hangat dan ikut berdoa.

Makna Mendalam di Balik Kembang Endhog memiliki makna spiritual :
-Cangkang telur melambangkan Iman.
-Putih telur melambangkan Islam.
-Kuning telur melambangkan Ihsan.
-Secara keseluruhan melambangkan kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam.


Setelah selesai diarak keliling desa, rangkaian acara ditutup dengan pembagian kembang endhog kepada seluruh warga. Telur hias ini dibagikan sebagai simbol berkah, kebersamaan, dan rasa syukur. Yang pertama kali menerima adalah peserta yang telah ikut membaca Barzanji dan sholawat, kemudian disebarkan kepada seluruh warga desa.

Salah satu tokoh masyarakat Bapak Boham menyampaikan,
“Tradisi ini bukan sekadar seremonial. Di dalamnya terkandung nilai keimanan, gotong royong, dan kecintaan kepada Rasulullah. Semoga Kembang Endhog Dusun Karangbendi Desa Gladag terus lestari dari generasi ke generasi,” ujar Boham selaku tokoh masyarakat setempat.

Semarak Maulud Nabi di Dusun Krajan Karangbendo Desa Gladag membuktikan bahwa nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal dapat berjalan beriringan indah, bermakna, dan menyatukan hati.

Pewarta: C133N
Editor: 5093N9

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *