Peran Strategis NU Rawat Islam Moderat dan Advokasi Keumatan Mengemuka di Beut NU Warong Kopi Kuta Padang

Daerah30 Dilihat

ACEH BARAT (Metrozone.net) – Peran strategis Nahdlatul Ulama (NU) dalam merawat Islam moderat yang membumi sekaligus mengadvokasi persoalan keumatan mengemuka dalam kegiatan Beut NU Warong Kopi Agrowisata Gampong Kuta Padang Edisi ke-16, yang berlangsung pada Sabtu, 4 Oktober 2026.

Kegiatan yang diinisiasi PCNU Aceh Barat ini menjadi ruang dialektika yang hangat antara ulama, tokoh muda, petani, dan pemuda gampong. Tidak hanya mengaji kitab, Beut NU di warung kopi ini menyambungkan nilai ke-Aswaja-an dengan realitas sosial yang dihadapi masyarakat hari ini.

Tokoh muda NU, Aduen Munzir, dalam tausiyahnya menegaskan bahwa Islam moderat harus dipahami secara utuh, bukan hitam-putih.

“Islam moderat itu seperti melihat dua sisi mata uang. Tidak bisa hanya melihat satu sisi. Harus seimbang antara pemenuhan kebutuhan duniawi dan ukhrawi,” ujar Munzir.

Ia menyoroti kegelisahan bersama terhadap kondisi generasi muda hari ini.

“Siapakah yang bertanggung jawab terhadap anak muda hari ini yang dihadapkan dengan berbagai fenomena judi online, dekadensi moral, dan krisis keteladanan? Tanggung jawab ada di kita semua,” tegasnya.

Menurut Munzir, krisis keteladanan menjadi akar utama kemerosotan moral. Solusinya adalah melahirkan generasi cerdas yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga tangguh secara sosial, menginspirasi, menghargai sesama, dan memiliki tujuan hidup yang jelas. Kuncinya satu: ta’zim kepada guru.

Senada, Khaisar dari Advokasi Petani Aceh menekankan bahwa advokasi tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya Aceh. Ia mengajak NU Aceh Barat untuk berkolaborasi menguatkan petani muda.

“Advokasi petani hadir dalam konteks sosial, budaya, dan melahirkan generasi moderat. Ilmu itu wajib belajar pada guru. Hari ini media sosial harus kita gunakan secara positif,” ajaknya.

Ia menyelipkan pesan mendalam dalam bahasa Aceh: Mak keu aneuk geutanyoe jak mita, donya tapubut akhirat tatuntut — bahwa anak adalah titipan yang harus kita jaga, dunia kita cari, akhirat kita tuntut.

Empat Pilar Islam Moderat

Penguatan ke-Aswaja-an disampaikan secara komprehensif oleh Waled Dr. H. Khairul Azhar, MA. Menurutnya, beragama sejatinya adalah persoalan yang mudah, yang memberi peluang yang sama antara kepentingan dunia dan akhirat.

“Agama lahir membawa nilai-nilai kebaikan. Siapa yang berbuat baik akan mendapat syurga dan demikian juga sebaliknya. Kuncinya adalah ramah dan santun terhadap sesama dalam menebarkan nilai kebaikan,” paparnya.

Ia menegaskan, NU hadir memberikan ruang bagi umat untuk berhaluan moderat dengan berorientasi pada empat pilar utama:
1. Tawassuth (moderat, mengambil jalan tengah) 2. Tawazzun (keseimbangan antara dunia dan akhirat) 3. Tasammuh (toleransi terhadap perbedaan) 4. I’tidal / A’dalah (adil dan objektif dalam berhukum)
Sementara itu, Riza dari Pengurus Pemuda menyoroti fenomena memprihatinkan anak muda yang nongkrong di warung kopi namun terjebak judi online. Ia mempertanyakan kiat dan solusi konkret untuk menyelamatkan generasi.

Diskusi juga mengemuka soal sanksi bagi anak sekolah dan pesantren, serta pergeseran penghormatan terhadap guru. Seorang penanya yang merupakan mantan guru berpengalaman menyebut, sejak sekitar tahun 2004, cara anak menghormati guru tidak lagi pada tempatnya.

Menanggapi hal itu, forum berpesan agar guru memberi keteladanan dengan tidak menggunakan HP saat mengajar, dan agar hukuman terhadap murid tidak diperberat, melainkan bersifat mendidik agar memberi dampak positif.

“Harapan kami, NU dapat meluaskan kerja-kerja terkait mengadvokasi keumatan. Kami sangat apresiasi tugas dan fungsi NU dalam menebarkan keteladanan di tengah masyarakat,” tutup salah satu peserta.

Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Geuchik Gampong Kuta Padang, Safrizal, dan Ketua Tuha Peut setempat. Menurutnya, Beut NU Warong Kopi memberikan ruang positif bagi generasi muda untuk memperoleh nilai-nilai kebaikan dalam penguatan akidah.

Melalui Beut NU Edisi ke-16 ini, NU Aceh Barat diharapkan terus menjadi jembatan yang kolaboratif dan solutif — merawat tradisi Islam moderat yang ramah, sekaligus menjawab persoalan nyata petani dan pemuda di akar rumput.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *