Dinilai Rapor Merah, Kadisdik Aceh Barat Bantah Pernyataan LP2A

Meulaboh (METROZONE.net) – Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Aceh Barat, Dr. Husensah, S.Pd,.M.Pd, memberi klarifikasi terkait kritikan yang disampaikan oleh Lembaga Pemantau Pendidikan Aceh (LP2A).

Dalam narasinya, Ketua LP2A, Dr. Samsuar, memberi rapor merah kepada Kadisdik Aceh Barat karena dinilai gagal memimpin lembaga pendidikan di Aceh Barat, terutama menyangkut berlarut-larutnya pengangkatan kepala sekolah definitif yang masih berstatus Pelaksana Tugas (Plt)

Sebagai Kepala Dinas Pendidikan Aceh Barat, saya ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Lembaga Pemantau Pendidikan Aceh atas kritik yang disampaikan karena itu adalah hak demokrasi sebagai warga negara. Namun, saya ingin meluruskan tentang pernyataan tersebut, karena semua kebijakan yang diambil harus sesuai regulasi dan peraturan yang melekat terutama tentang pengangkatan seorang kepala sekolah definitif,” kata Husensah, dalam keterangannya, Rabu (21/1-2026)

Saya sangat menyayangkan statement tersebut yang tidak memahami regulasi. “semua orang mau repot mengawasi pendidikan meski sebagian cukup puas mengawasi dari kejauhan, lalu menyimpulkan rapor merah walau tahun ajaran belum selesai,” ujarnya

Soal Plt kepala sekolah, kata Husensah, perlu kami sampaikan kalau pengangkatan kepala sekolah definitif yang berstatus Plt sudah berproses dan berjalan di Sistem Aplikasi Pengangkatan Kepala sekolah.

Menurutnya, proses pengangkatan kepala sekolah saat ini tidak semudah mengganti foto profil di Whatsapp, kalau cara seperti ini mungkin sejak kemarin semua sekolah sudah definitif,” kata dia

Husensah menambahkan bahwa birokrasi tidak bekerja dengan forward message, ada regulasi, ada proses, ada verifikasi, ada seleksi, dan ada kewenangan yang tidak sepenuhnya berada di meja Kadisdik,” terang Husensah

Ia menegaskan semua proses itu ada di Kemdikdasmen, ada BKN yg memberi persetujuan pada sistem Aplikasi Pengangkatan Kepala Sekolah yang tidak dipahami oleh secara teknis oleh pemberi Rapor. Alangkah lebih baiknya pemberi rapor belajar lagi memahami subtansi teknis pengangkatan kepala sekolah saat ini sebelum berkomentar,” tuturnya

Terkait dengan pernyataan Samsuardi Katanya Plt hanya boleh tiga bulan. Tapi realitasnya, kita dihadapkan dengan regulasi dan aturan yg mengikat, kita juga diminta tidak asal tunjuk, tidak menabrak sistem aturan kepegawaian, dan tidak mengorbankan kualitas demi kecepatan, “Aneh juga rasanya kalau cepat dibilang serampangan dan gagal manajemen,” sebutnya

Lanjut Kadisdik Aceh Barat, meskipun kepala sekolah dipimpin Plt, namun sekolah-sekolah itu tetap hidup. Anak-anak tetap belajar, guru tetap mengajar, administrasi tetap berjalan.

Husensah menyebutkan bahwa status Plt bukan Pelan Tapi Absen. Bahkan banyak dari mereka justru bekerja dobel tanggung jawab, justru pengorbanan ini jarang masuk dalam narasi kritik,” kesalnya

Soal tudingan “gagal manajemen”, izinkan saya balik bertanya gagal menurut indikator siapa? Kami bekerja sesuai indikator Visi Misi Bupati bukan sesuai indikator Samsuardi Apakah mutu pendidikan turun drastis? Apakah sekolah tutup massal? Atau gagal karena satu variabel yg belum sesuai harapan lembaga pemantau?,” kata Husensah dengan nada penuh tanya

“Kalau manajemen diukur hanya dari jumlah Plt, maka ilmu manajemen memang sudah terlalu sederhana untuk disebut akademik. Pemantau juga terlalu bodoh dalam melakukan Pemantauan,” timpalnya

Terkait adanya desakan agar Bupati Aceh Barat segera mencopot saya itu tentu hak siapapun untuk berpendapat dan sepenuhnya ada pada Bupati sebagai Pimpinan. Dan kami tetap bekerja melakukan proses sesuai regulasi yang berlaku,” terangnya

“Kami tidak alergi kritik. Tapi kritik yang dibangun harus konstruktif dan baik lahir dari data utuh, pemahaman proses akar masalah, bukan Destruktif sekadar menunjuk lalu berteriak “gagal!,” ucapnya

Menurutnya, Kalau pendidikan bisa maju hanya dengan rapor merah, mungkin sejak lama kita sudah jadi negara paling cerdas di dunia. Pendidikan maju karena orang-orang di dalamnya tetap bekerja meski sedang dinilai gagal oleh mereka yang tidak ikut memikul bebannya,” demikian Husensah

(Almanudar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed