Desa Gladag dan Masa Depan Seni: Jangan Biarkan Warisan Budaya Berhenti di Panggung

Banyuwangi, Metrozone.net- Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, memiliki modal budaya yang tidak kecil. Seni tari dan seni suara tumbuh bersama kehidupan masyarakat. Para pelaku seni telah memberikan warna bagi perjalanan kebudayaan desa.

Namun, ada pertanyaan yang patut diajukan: apakah kekayaan seni tersebut benar-benar sedang diwariskan kepada generasi berikutnya, atau hanya muncul ketika ada panggung dan acara tertentu?

Pertanyaan ini penting. Sebab, pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada pertunjukan sesaat. Ketika lampu panggung padam dan tepuk tangan penonton berhenti, persoalan sebenarnya justru dimulai: siapa yang akan meneruskan?

Desa Gladag memiliki cerita kesenian yang layak dicatat. Salah satunya adalah Gebyar Barong, yang dikenal sebagai karya ciptaan Soemitro Hadi, dengan Suadara Momon sebagai salah satu penarinya. Nama-nama seperti ini semestinya tidak hanya disebut ketika pertunjukan berlangsung, tetapi juga menjadi bagian dari dokumentasi sejarah kesenian desa.

Di sinilah persoalannya:

Banyak kesenian lokal memiliki pencipta, pelaku, dan sejarah, tetapi dokumentasinya sering kali belum menjadi perhatian utama. Akibatnya, generasi muda bisa menikmati pertunjukannya tanpa mengetahui siapa yang menciptakan, bagaimana proses kelahirannya, serta nilai apa yang terkandung di dalamnya.

Padahal, sebuah kesenian tanpa dokumentasi berisiko kehilangan jejak sejarahnya.

Pemerintah desa, pelaku seni, sekolah, komunitas budaya, dan masyarakat perlu melihat kesenian bukan sekadar hiburan. Seni dapat menjadi identitas desa sekaligus ruang pendidikan bagi generasi muda.

Jika Desa Gladag ingin dikenal sebagai desa yang memiliki kekuatan budaya, maka keberanian untuk melakukan regenerasi harus menjadi agenda nyata. Anak-anak muda perlu diberi kesempatan belajar tari, seni suara, musik, sekaligus memahami sejarah kesenian yang berkembang di lingkungannya.

Jangan sampai generasi muda hanya menjadi penonton dari kebudayaannya sendiri.

Lebih jauh lagi, para seniman senior perlu mendapatkan ruang untuk mentransfer pengetahuan kepada generasi penerus. Pemerintah desa dapat mendorong kegiatan latihan rutin, festival seni desa, pendataan pelaku seni, hingga dokumentasi karya-karya yang memiliki nilai sejarah.

Sebab, budaya tidak akan bertahan hanya karena kita mengatakan bahwa kita mencintainya. Budaya bertahan karena ada orang yang mau mempelajarinya, mengajarkannya, mendokumentasikannya, dan memberi ruang untuk berkembang.

Desa Gladag memiliki potensi itu. Tinggal bagaimana potensi tersebut diperlakukan: apakah hanya sebagai kebanggaan ketika ada pertunjukan, atau benar-benar dijadikan kekuatan budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pelestarian seni bukan seberapa ramai sebuah panggung ketika pertunjukan digelar. Ukurannya adalah apakah setelah para maestro dan pelaku seni hari ini tidak lagi berada di atas panggung, masih ada generasi yang mampu melanjutkan karya mereka.

Jika jawabannya ada, maka seni Desa Gladag akan terus hidup.

Jika tidak, sejarah hanya akan tersisa sebagai cerita.

Penulis: 5093N9

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed