Banyuwangi Batik Festival (BBF) 2026 Angkat Motif Sabuk Mangir Ukel, Perkuat Pelestarian Batik Lokal dan Industri Batik Daerah

Daerah17 Dilihat

Banyuwangi, Metrozone.net- Pemkab Banyuwangi terus mendorong pelestarian batik lokal sekaligus memperkuat industri batik sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif daerah. Salah satunya melalui Banyuwangi Batik Festival (BBF) yang tahun 2026 ini mendapat dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) penyelenggaraannya.

Digelar di Gesibu Blambangan, Sabtu malam (7/11/2026),

Festival yang memasuki tahun ke-14 ini menampilkan puluhan busana hasil kreativitas 16 pembatik lokal. Beragam rancangan busana modern ditampilkan, sekaligus memperkenalkan kekayaan motif batik Banyuwangi kepada masyarakat luas.

Tahun ini, Sabuk Mangir Latar Ukel dipilih untuk mengangkat kembali kekayaan filosofi lokal. Motif ini memadukan garis tegas Sabuk Mangir dengan liukan lembut Latar Ukel yang merepresentasikan keseimbangan nilai kehidupan, perlindungan, dan keanggunan budaya masyarakat Using.

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, BBF bukan sekadar panggung peragaan busana, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan menjaga warisan batik Banyuwangi agar tetap hidup dan berkembang mengikuti zaman.

“Melalui festival ini, kita ingin motif-motif batik Banyuwangi terus dikenal, diwariskan, dan dikembangkan. Batik bukan hanya warisan budaya yang harus kita jaga, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar bagi masyarakat,” kata Ipuk yang menyampaikan sambutannya secara daring.

Menurut Ipuk, pelestarian batik harus berjalan beriringan dengan penguatan industrinya. Karena itu, Pemkab terus mendorong penggunaan batik lokal di lingkungan sekolah dan instansi, pengenalan batik di jalur pendidikan, serta membuka ruang promosi dan pemasaran bagi para perajin.

“Kami ingin batik Banyuwangi tidak hanya lestari sebagai identitas budaya, tetapi juga menjadi produk unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan pembatik dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Di panggung BBF 2026, beragam rancangan busana ditampilkan, mulai dari gaun malam, busana kontemporer siap pakai hingga pakaian formal. Kreativitas para desainer memperlihatkan bahwa motif tradisional Banyuwangi dapat diolah menjadi produk fashion modern tanpa meninggalkan karakter aslinya.

Dampak penyelenggaraan BBF terhadap perkembangan industri batik lokal dirasakan langsung para perajin. Salah satunya Firman Syauqi dari Godho Batik yang telah mengikuti perjalanan BBF sejak pertama kali digelar pada 2013.

Menurut Firman, BBF menjadi salah satu pintu bagi produk batik lokal untuk semakin dikenal dan menjangkau pasar yang lebih luas. Saat ini, usahanya mampu menjual hingga 750 kain batik setiap bulan dengan harga berkisar Rp100 ribu hingga Rp5 juta per kain. Produknya telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

“Festival ini memberikan ruang promosi yang sangat berarti bagi perajin lokal,” ungkapnya.

Firman menambahkan, perkembangan industri batik Banyuwangi juga didukung ekosistem yang dibangun secara berkelanjutan. Mulai dari kebijakan penggunaan batik lokal, pengenalan batik di sekolah hingga upaya regenerasi pembatik.

“Sejak BBF pertama kali digelar, jumlah pembatik lokal terus bertambah. Jika dilu pembatik lokal bisa dihitung jari, kini lebih dari 60 pembatik telah terdaftar dalam asosiasi,” katanya.

Regenerasi pembatik juga tumbuh melalui jalur pendidikan. Hal itu dilakukan Fiki Dwi Cahyono dari Serupa Batik, yang juga merupakan guru di SMKN 2 Tegalsari. Sekolah tersebut memiliki jurusan batik, sehingga lulusannya memiliki bekal keterampilan untuk terjun langsung ke industri.

“Pembatik di Serupa Batik sebagian besar merupakan alumni SMKN 2 Tegalsari. Mereka bisa memperdalam ilmu yang didapat di sekolah. Setelah memiliki pengalaman cukup, sebagian kemudian mengembangkan usaha batiknya sendiri,” jelasnya.

Sementara itu, Dani Rusdian dari Batikan mengaku tertarik menekuni industri batik sejak 2021 karena melihat besarnya peluang pasar batik Banyuwangi. Menurutnya, dukungan pemerintah daerah dan masyarakat turut memberikan ruang bagi tumbuhnya pelaku usaha baru.

Selama 14 tahun penyelenggaraan, BBF konsisten mengangkat beragam motif khas Banyuwangi sebagai upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya. Sejumlah motif yang pernah ditampilkan antara lain Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Paras Gempal, Sekar Jagad Blambangan, Kopi Pecah, Gedhegan, Blarak Sempal, Sisik Blambangan, Sembruk Cacing, Jenon, dan Wader Kesit.

Kolaborasi Pemkab Banyuwangi dengan OJK Jember dalam penyelenggaraan BBF 2026 ini diharapkan semakin memperkuat pengembangan industri kreatif berbasis potensi lokal. Perhelatan tersebut ditutup dengan penampilan musisi Hanin Dhiya yang menghibur ribuan pengunjung.

Editor: 5093N9

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *