KOTA SORONG, METROZONE-NET—Ketua Ikatan Keluarga Besar Kofiau, Irfin Watem, meminta lima kepala kampung di Distrik Kofiau, Kabupaten Raja Ampat, agar mengedepankan transparansi dalam pengelolaan Dana Desa serta memperhatikan kebutuhan mahasiswa asal kampung masing-masing yang sedang menyelesaikan studi akhir.
Permintaan tersebut ditujukan kepada Kepala Kampung Deer, Mikiran, Awat, Balal, dan Tolobi pada Sabtu (10/10/2026). Ia berharap pemerintah kampung dapat mempertimbangkan dukungan pendidikan bagi mahasiswa sesuai ketentuan penggunaan Dana Desa yang berlaku.
Irfin Watem, yang berasal dari Kampung Deer, menegaskan bahwa mahasiswa tingkat akhir membutuhkan perhatian dan dukungan agar dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Menurutnya, bantuan pendidikan, meskipun jumlahnya terbatas, dapat meringankan beban mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir,” Sabtu, 10 Oktober 2026: 18.32 WIT.
“Dana yang diberikan mungkin tidak besar, tetapi sangat berarti bagi mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi akhir. Kami berharap lima kepala kampung dapat memperhatikan kebutuhan mereka, terutama setelah Dana Desa dicairkan,” tegas Irfin Watem.
Ia juga meminta agar setiap alokasi anggaran yang berkaitan dengan dukungan pendidikan mahasiswa disampaikan secara terbuka kepada masyarakat. Transparansi dinilai penting untuk memastikan penggunaan anggaran dapat diketahui dan dipertanggungjawabkan sesuai peraturan yang berlaku.
“Yang terpenting adalah transparansi. Jika ada anggaran yang dialokasikan untuk membantu mahasiswa studi akhir, kami berharap jumlah dan mekanisme penyalurannya disampaikan secara terbuka sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ucapnya.
Lebih lanjut, Irfin Watem menambahkan bahwa perhatian terhadap mahasiswa merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di Distrik Kofiau. Karena itu, ia berharap lima kepala kampung dapat mempertimbangkan kebutuhan mahasiswa secara adil, terbuka, dan bertanggung jawab.
Ia berharap mahasiswa asal Kampung Deer, Mikiran, Awat, Balal, dan Tolobi memperoleh perhatian sesuai kebijakan dan kemampuan anggaran kampung, sehingga mereka dapat menyelesaikan pendidikan dan kelak berkontribusi bagi pembangunan daerah.
[Penulis: Alex Umpain]






