Oleh: ERICKA OKTAVIANTI,SH.
Seklur Kelurahan Adipuro,Kecamatan Trimurjo,Kab.Lam-Teng,**$**.
Adipuro,19 Mei 2026,MetroZone.Net-
Hidup ini penuh dengan misteri dan ketidakpastian. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang mampu memastikan apa yang akan terjadi satu jam ke depan, apalagi menentukan bagaimana akhir hidupnya kelak.
Seringkali, kita tergelincir pada satu kebiasaan yang keliru,menilai orang lain hanya dari apa yang terlihat saat ini, mengukur masa depan seseorang berdasarkan kondisinya hari ini, dan bahkan meremehkan mereka yang dianggap berada di bawah standar atau kurang beruntung dibanding diri kita.
Padahal, sikap seperti ini bukan hanya cerminan ketidakdewasaan, melainkan juga sebuah kesalahan besar karena kita lupa bahwa takdir dan perjalanan hidup setiap insan itu berada sepenuhnya di luar kendali kita.
Sering kita melihat seseorang yang hari ini hidup sederhana, berkekurangan, atau belum memiliki apa yang disebut kesuksesan materi. Tanpa sadar, terkadang pandangan kita menjadi berbeda, nada bicara menjadi meninggi, dan perlakuan menjadi tidak selayaknya. Kita mengira kondisi ini adalah garis akhir dari hidup mereka.
Padahal, kita lupa bahwa roda kehidupan itu selalu berputar. Hari ini siapa yang berada di bawah, belum tentu besok atau lusa tetap di sana. Dan hari ini siapa yang merasa di atas, tidak ada jaminan akan selamanya bertahan di puncak. Sejarah dan kenyataan hidup sudah membuktikan banyak sekali orang yang dulunya diremehkan, ternyata kemudian menjadi orang besar, sukses, dan dihormati, sebaliknya mereka yang dulu merasa paling hebat, bisa jatuh dan meminta bantuan kepada orang yang dulu pernah dipandang sebelah mata.
Inilah alasan utama mengapa kita diajarkan untuk tidak pernah meremehkan siapa pun. Bukan karena orang tersebut pasti akan sukses atau berkuasa nanti, melainkan karena setiap manusia memiliki harga diri, martabat, dan potensi yang tak terukur oleh pandangan mata kita yang terbatas. Lebih dari itu, kita sama sekali tidak tahu bagaimana akhir hidup seseorang.
Bisa jadi orang yang kita pandang rendah itu justru orang yang hatinya paling bersih, paling dicintai Tuhan, dan berakhir dengan kebahagiaan yang abadi. Sementara kita yang merasa hebat dan merasa paling benar, bisa saja tergelincir karena kesombongan dan berakhir dengan penyesalan yang tak bertepi.
Akhir hidup adalah rahasia Tuhan yang paling mutlak, dan kita tidak pernah tahu siapa yang lebih beruntung pada akhirnya.
Maka dari itu, sikap terbaik yang harus kita bangun adalah berpikir positif terhadap sesama. Berpikir positif bukan berarti kita harus membenarkan semua perbuatan orang lain, melainkan membangun cara pandang yang optimis, melihat sisi baik setiap orang, percaya bahwa setiap orang berusaha melakukan yang terbaik menurut kemampuannya, dan senantiasa memberi ruang bagi perubahan serta perbaikan diri orang lain.
Berpikir positif menjauhkan kita dari sifat sombong, menjauhkan dari rasa iri dan dengki, serta mengajarkan kita untuk saling mengangkat, bukan saling menjatuhkan.
Ketika kita berhenti meremehkan dan mulai berpikir positif, hati kita menjadi lebih lapang, hubungan dengan sesama menjadi lebih harmonis, dan lingkungan pun menjadi tempat yang nyaman untuk tumbuh bersama. Ingatlah, status, harta, dan jabatan hanyalah titipan yang bisa beralih tangan kapan saja. Satu-satunya hal yang menjadi bekal kita hingga akhir hayat adalah akhlak, kebaikan, dan sikap kita kepada sesama makhluk.
Mari kita tanamkan dalam sanubari: jangan merasa lebih tinggi dari siapa pun, dan jangan pernah meremehkan siapa pun. Perlakukan orang lain dengan hormat dan kasih sayang, layaknya kita ingin diperlakukan. Karena kita sama sekali tidak tahu, siapa yang akan menjadi penolong kita di masa depan,
dan yang paling penting: kita tidak tahu, siapa di antara kita yang akan mendapatkan akhir hidup yang paling indah dan bahagia selamanya.**$$$$$**










