Meulaboh (METROZONE.net) – Menanggapi isu yang berkembang tentang rendahnya mutu pendidikan di Aceh Barat ditanggapi oleh Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kabupaten Aceh Barat, Banta Lidan, S.Pd.I.
“Sudah sering kita mendengar isu yang berkembang di publik bahwa mutu pendidikan di Aceh Barat semakin menurun. Bahkan banyak pihak kemudian terburu-buru menyalahkan guru. Padahal, jika kita jujur, kemampuan guru di Aceh Barat sebenarnya sudah cukup baik,” kata Banta Lidan, kepada Metrozone.net, Senin (29-9-2025)
Menurutnya, Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, kepala sekolah dan guru telah berjuang sekuat tenaga mendidik anak-anak kita dengan segala keterbatasan yang ada.
Namun, ada faktor besar yang sering kita lupakan, yaitu peran keluarga dan masyarakat.
Bahkan, Kata Banta Lidan, perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Barat terhadap guru sangat serius, setiap ada kebijakan baru dari pemerintah dibuat pelatihan untuk guru, yang tujuannya tenaga pendidik dapat menyesuaikan dengan kebutuhan zaman,” ujarnya
Selama ini banyak orang tua beranggapan bahwa setelah anak diserahkan ke sekolah, selesai sudah tanggung jawabnya. Akibatnya, anak kurang mendapat perhatian dan bimbingan belajar di rumah,” katanya
Padahal, kata Banta Lidan, motivasi, dukungan, dan teladan orang tua sangat menentukan keberhasilan anak, demikian juga dengan masyarakat
Ia menambahkan bahwa lingkungan sosial yang tidak mendukung sering membuat anak-anak lebih betah di luar sekolah. Bahkan ada yang beranggapan bahwa sekolah formal tidak sepenting bekerja sejak dini, “Jika pandangan seperti ini dibiarkan, tentu pendidikan kita akan semakin terpuruk,” tambahnya
Karena itu, kata dia, pendidikan tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama yang melibatkan tiga pilar utama:
1. Informal (keluarga) – memberikan pendampingan, motivasi, dan perhatian di rumah.
2. Formal (sekolah) – membimbing secara akademik dan karakter.
3. Nonformal (masyarakat) – menciptakan lingkungan sosial yang mendukung anak-anak belajar.
Di sisi lain, lanjutnya, penting juga dipahami bahwa guru dalam mendidik tidak diperkenankan memberikan hukuman fisik dalam bentuk apapun, hal ini sering menjadi sumber kesalahpahaman,” sebutnya
“Saya sendiri pernah mengalami kasus di SMP Negeri 2 Pante Ceureumen: seorang guru hanya mencubit siswa karena tingkahnya sudah di luar batas, tanpa menimbulkan bekas sedikit pun. Namun, keesokan harinya orang tua datang marah-marah ke sekolah, bukan menanyakan duduk persoalannya,” ungkap Banta Lidan
Banta Lidan menggaris bawahi bahwa kasus ini menunjukkan bahwa sering kali guru menjadi pihak yang disalahkan terlebih dahulu, sementara akar persoalannya justru ada pada kurangnya komunikasi, perhatian orang tua, maupun dukungan masyarakat,” tandasnya
Maka, saya selaku Ketua MKKS SMP Aceh Barat ingin mengajak semua pihak agar tidak terlalu cepat memvonis guru sebagai penyebab menurunnya mutu pendidikan. Kita perlu jujur melihat bahwa keberhasilan pendidikan akan terwujud hanya jika ada sinergi yang kuat antara keluarga, sekolah, dan masyarakat,” harap
Jika ketiga pilar ini mampu berjalan bersama, kata Banta Lidan, InsyaAllah mutu pendidikan di Aceh Barat akan meningkat. Mari kita jadikan sekolah bukan sekadar tempat guru mengajar, melainkan pusat kebersamaan seluruh elemen masyarakat dalam memajukan generasi kita.
Tambahnya lagi, Dengan peluncuran 7 kebiasaan anak indonesia hebat sesuai surat edaran Kemendikdasmen Nomor 14 tahun 2025 ini tidak akan terealisasi tanpa peran orang tua seperti bangun pagi,beribadah,makan bergizi, kan tidak mungkin guru membangun kan peserta didik disetiap pagi,” pungkasnya
Penulis: Almanudar












