Malintang , kabupaten Mandailing Natal , Sumatra utara , selasa (26/05)
Polemik tak berkesudahan di sekolah berbasis Islam bernama MTs GUPPI Malintang Kab Mandailing Natal ternyata makin meruncing dan kian memuncak. Sejumlah warga, wali murid hingga tokoh masyarakat terus angkat suara menyoroti kondisi madrasah yang dinilai makin memprihatinkan.
Tak cuma masalah kepemimpinan Amir Mahmud yang digugat warga karna dinilai tidak prosedural dan tidak amanah, pengelolaan dana BOS yang dianggap bermasalah, kondisi fisik madrasah yang dinilai tak layak, Terbaru, kini persoalan merambah luas ke yayasan yang baru dibentuk ditengarai penuh rekayasa, tertutup, sarat kepentingan pribadi dan diduga tidak aspiratif mengakomodir kepentingan masyarakat Malintang secara keseluruhan.
Salah seorang tokoh masyarakat Malintang yang enggan disebutkan namanya bermarga Nasution kepada pers (27/05) ketika dimintai tanggapannya menyebutkan warga Malintang menyatakan protes keras dan menolak dengan tegas pembentukan Yayasan Baru MTs GUPPI Malintang karna disinyalir penuh dengan rekayasa, tertutup dan kental dengan pesan titipan dari Kepala Madrasah Amir Mahmud untuk menghalalkan segala cara demi melanggengkan kepemimpinannya apalagi dengan klaim bahwa yayasan itu milik sekelompok orang/pihak tertentu. “Warga secara tegas menolak Yayasan Baru tersebut. Rapat pembentukan kepengurusan yayasan baru juga kami anggap tidak sah, tidak prosedural dan sengaja menabrak aturan yang lazim” sebut sumber tsb di Panyabungan seusai melakukan pertemuan dengan berbagai instansi terkait menyikapi kisruh MTs GUPPI Malintang.
Dia yang saat itu bersama tokoh masyarakat lainnya bermarga Batubara, Matondang, Hasibuan kemudian menegaskan, tidak ada dasar hukum yang menyebutkan yayasan itu adalah milik sekelompok orang tertentu apalagi mengklaim bahwa madrasah itu hanya milik para ahli waris generasi pendiri madrasah. “Sejak dulu Yayasan Madrasah itu bernama GUPPI. Itu berarti milik umat dan warga Malintang sesuai akte hibah. Sejak berdiri madrasah, tak pernah nama Yayasan itu diklaim sebagai milik pribadi/kelompok/tertentu. Kita harus lebih amanah dan lihat kembali sejarah, bahwa tanah untuk pembangunan madrasah itu sudah lama dihibahkan dan diwakafkan para pendiri untuk masyarakat, demi kemaslahatan masyarakat Malintang,.khususnya untuk sektor pendidikan. Jadi kenapa pula sekarang, diklaim sebagai milik kelompok tertentu” ujar mereka penuh tanya.
Sumber tsb bersama sejumlah tokoh masyarakat dan warga, mengaku sangat geram ketika mendengar desas desus bahwa Yayasan yang baru dibentuk kini dicoba dialihkan menjadi milik kelompok tertentu.
Madrasah ini sebelumnya terangnya, memliki yayasan bernama GUPPI yang berasal dari, oleh dan untuk umat. Yayasan ini milik umat dan merupakan amanah umat, tapi saat ini terkesan diklaim sebagai milik kelompok tertentu. “Kalau sekolah itu diklaim sebagai milik yayasan pribadi/kelompok mereka. Kenapa baru sekarang mereka menyatakan itu. Ini merupakan pengelabuan dan trik pembodohan warga. Kenapa sejak dulu nama yayasan madrasah ini bernama GUPPI, kenapa gak bernama Yayasan pribadi seperti yayasan pendidikan Assaqafah, Darul Fadhil, Hamid Hamka, Darul Ikhlas, Al Husnayain, Al Furqan, Adnani dll yang merupakan yayasan milik pribadi/kelompok” terang mereka.
Seharusnya kata mereka, madrasah sebagai lembaga pendidikan seharusnya menjadi contoh “uswatun hasanah” dalam penerapan nilai akhlakul karimah, keterbukaan, kebersamaan dengan mengedepankan musyawarah untuk kemaslahatan umat. Bukan malah dicederai dengan sikap arogansi dan menghalalkan segala cara. “Kita protes dan menolak Yayasan Baru MTs GUPPI Malintang yang dibentuk baru baru ini karna dinilai tidak menganut prinsip musyawarah dan azas terbuka. Untuk kebaikan citra madrasah dan demi maslahat, kita juga meminta agar Amir Mahmud mengundurkan diri dari jabatannya selaku Kepala Madrasah” tegas mereka.
Dalam kesempatan terpisah,.wali siswa bermarga batubara kepada media ini, menawarkan solusi agar polemik ini tidak berkepanjangan, agar Kakan Kemenag Madina H. Maranaek dan Camat Bukit Malintang untuk segera “turun tangan” menggelar rapat musyawarah pembentukan yayasan baru dengan mengundang Pj Kades, BPD, Dewan Guru, Wali Murid, Komite Madrasah, dan sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan warga untuk membentuk yayasan baru MTs GUPPI Malintang dengan mengedepankan prinsip keterbukaan dan kebersamaan demi menyelamatkan kondisi madrasah yang lebih baik ke depan. “Niat kita baik untuk kebaikan madrasah. Ini harus segera direspon positif oleh pihak terkait” tutupnya
Sebelumnya diberitakan, Amir Mahmud ketika dikonfirmasi wartawan ke nomor WatsApp melalui kontak 0853 7000 **** memilih bungkam dan diam seribu bahasa ketika dipertanyakan pers seputar legalitas, mekanisme dan pembentukan pengurus Yayasan Baru MTs GUPPI Malintang yang dinilai kontroversi dan menimbulkan keresahan warga tersebut.
(Amran )





