Karang Intan, Metrozone.net –
Kunjungan Rektor Universitas PGRI Kalimantan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Karang Intan dalam rangka persiapan pelaksanaan perkuliahan di dalam Lapas menghadirkan momen istimewa. Tidak hanya melakukan koordinasi akademik, rombongan rektorat juga memberikan apresiasi nyata dengan memborong produk unggulan hasil karya warga binaan, Jum’at, 27 Februari 2026.
Produk Teh Mint Laskarin yang segar dan menyehatkan serta kain sasirangan dengan motif khas Kalimantan Selatan menjadi perhatian utama. Tanpa ragu, rombongan membeli dalam jumlah besar sebagai bentuk dukungan langsung terhadap program pembinaan kemandirian yang selama ini dijalankan di dalam lapas.
Memborong produk tersebut menjadi simbol kuat apresiasi atas kualitas dan kesungguhan Warga Binaan dalam berkarya. Suasana haru dan bangga pun terlihat dari para warga binaan yang terlibat dalam proses produksi.
Kepala Lapas Narkotika Karang Intan, Yugo Indra Wicaksi, menyampaikan rasa terima kasih dan kebanggaannya atas dukungan tersebut.
“Kami sangat mengapresiasi langkah Rektor dan jajaran yang tidak hanya datang untuk berdiskusi, tetapi juga memborong produk warga binaan. Ini adalah bentuk penghargaan nyata yang sangat berarti bagi mereka. Dukungan seperti ini mampu meningkatkan motivasi dan rasa percaya diri warga binaan untuk terus berkarya lebih baik,” ujar Yugo Indra Wicaksi.
Menurutnya, apresiasi dalam bentuk pembelian langsung memberikan dampak psikologis dan ekonomi sekaligus. Warga binaan merasa dihargai, sementara program pembinaan kemandirian semakin mendapat penguatan.
Rektor Universitas PGRI Kalimantan, Alimuddin A Djawad, menegaskan bahwa langkah memborong produk warga binaan merupakan bentuk dukungan konkret terhadap proses pembinaan.
“Kami melihat kualitas produk yang sangat baik. Teh Mint Laskarin dan Kain Sasirangan ini layak bersaing di masyarakat. Memborong hasil karya mereka adalah wujud apresiasi kami atas kerja keras dan kreativitas Warga Binaan. Ini juga bentuk dukungan moral agar mereka terus semangat memperbaiki diri,” ungkap Alimuddin.
Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa sinergi antara Lembaga Pemasyarakatan dan dunia pendidikan tidak hanya berhenti pada program akademik, tetapi juga menyentuh aspek pemberdayaan ekonomi dan penghargaan atas karya. (ysf)













