PANGKALPINANG — Material lama yang kembali bergerak, dan pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab
Deru mesin dump truck terdengar bersahutan sejak pagi di kawasan Ketapang, Pangkalpinang, Kamis (12/2/2026). Satu per satu kendaraan bak besar melintas masuk ke area Wilayah Usaha Pertambangan (WUP) Bangka – Unit Produksi Bangka Darat/Laut di Baturusa. Debu tipis membubung setiap roda berhenti dan kembali bergerak.
Sudah dua hari aktivitas itu berlangsung.
Puluhan truk disebut mengangkut tin slag dari kawasan Jalan Mangkol, Kelurahan Kayu Besi, Kecamatan Pangkalan Baru (Air Mesu), Bangka Tengah. Material yang dalam industri pertimahan dikenal sebagai residu hasil peleburan itu kini berpindah arah menuju wilayah operasional produksi Bangka.
Namun seperti banyak cerita tentang timah di Bangka Belitung, setiap pergerakan material dalam jumlah besar selalu menyisakan pertanyaan.
Tin slag lahir dari proses panjang peleburan bijih timah. Di dalam tungku bersuhu tinggi, logam murni dipisahkan dari unsur lainnya. Hasil utamanya adalah timah batangan, sementara sisa pembakaran dan pemisahan membentuk terak yang disebut slag.
Kerap disebut limbah, tetapi dalam praktik industri, slag tidak selalu berakhir sebagai buangan.
Material ini masih dapat mengandung sisa logam dalam kadar tertentu yang memungkinkan untuk diproses ulang. Data yang pernah dihimpun menunjukkan sebagian tin slag memiliki kandungan timah sekitar 22 persen — angka yang secara ekonomi tetap bernilai jika dilakukan ekstraksi lanjutan.
Di sinilah residu berubah makna: dari sisa produksi menjadi potensi cadangan sekunder.
Jejak material ini sesungguhnya telah berlangsung lama.
Pada 12 November 2021, sekitar 2.000 ton tin slag asal Tanjung Pandan, Belitung, tercatat tiba di Pangkalpinang melalui jasa pelayaran. Material itu disebut berasal dari hasil kerja sama peleburan mitra PT Timah di Kelapa Kampit, Belitung Timur, periode 1999–2000.
Setelah sandar di Pangkal Balam, material dipindahkan ke kawasan Air Mesu untuk pengolahan lanjutan. Dalam catatan distribusi, total berat yang sempat terdata mencapai 1.737 ton, terdiri dari beberapa kategori terak produksi berbeda tahun.
Tahun 2023, material tersebut kembali berpindah lokasi.
Dan pada Februari 2026, alur distribusi itu kembali bergerak menuju WUP Bangka.
Jika dirunut, material yang sama telah berpindah tempat setidaknya tiga kali dalam kurun beberapa tahun terakhir — bahkan dua dekade sejak pertama kali dilebur.
Pantauan di lapangan menunjukkan truk-truk datang dari arah Air Mesu menuju kawasan WUP Bangka di Baturusa. Aktivitas berlangsung hampir tanpa jeda.
Sebelumnya, ketika dikonfirmasi di lokasi asal, seorang petugas keamanan PT Kopan Jaya Mandiri bernama Komar menyebut material tersebut merupakan milik PT Timah.
“Tin slag ini punya PT Timah, Bang. Orang-orang PT Timah banyak di sini, lengkap dengan security dari PT Timah,” ujarnya.
Di lokasi tujuan, seorang petugas keamanan yang mengaku bernama Jhon, mengenakan masker saat berjaga, memberikan jawaban singkat.
“Coba tanyakan langsung ke Humas,” katanya.
Dua lokasi, dua titik pengawasan, satu material yang sama.
Jawaban sederhana itu justru membuka ruang tanya lebih besar.
Apakah material tersebut sedang dipindahkan untuk proses ekstraksi lanjutan?
Apakah ini bagian dari distribusi internal rantai produksi?
Ataukah ada tahapan kerja sama lain yang sedang berjalan?
Hingga laporan ini disusun, belum ada penjelasan resmi mengenai tujuan spesifik pemindahan tersebut.
Industri timah telah menjadi nadi ekonomi Bangka Belitung selama ratusan tahun. Namun di era keterbukaan informasi, pergerakan material dalam skala besar bukan lagi sekadar urusan teknis internal perusahaan.
Pengelolaan residu peleburan seperti tin slag berada di persimpangan antara potensi nilai ekonomi dan kewajiban tata kelola lingkungan serta administrasi pertambangan.
Setiap ton material idealnya tercatat dalam dokumen produksi, manifest pengangkutan, serta rencana pengolahan. Transparansi menjadi bagian dari kepercayaan publik terhadap pengelolaan sumber daya alam.
Publik mungkin hanya melihat truk yang berlalu-lalang di jalan utama kota.
Namun di balik itu, ada rantai panjang produksi yang menyangkut nilai ekonomi, tanggung jawab korporasi, dan pengawasan negara.
Dan jejak tin slag — dari tungku Kelapa Kampit, ke pelabuhan Pangkal Balam, ke Air Mesu, hingga kini ke Wilayah Usaha Pertambangan Bangka — masih menjadi cerita yang terus bergerak.
Selama penjelasan menyeluruh belum disampaikan, pergerakan itu akan tetap menyisakan satu hal: pertanyaan.









