NTB. METROZONE.NET– Suasana duka menyelimuti ruangan tempat persemayaman dr. Icha. Tangisan tidak lagi terdengar keras, berganti dengan keheningan yang justru terasa lebih menyakitkan bagi keluarga dan orang-orang terdekat yang ditinggalkan.”(28/6/2026).
Di sisi peti jenazah, tampak dua pria yang begitu terpukul atas kepergian almarhumah. Mereka adalah ayahanda dr. Icha dan sang kekasih, Inyo.
Bagi sang ayah, kepergian putrinya meninggalkan luka yang mendalam. Sejak kecil, ia mendampingi dan membesarkan dr. Icha dengan penuh kasih sayang serta berbagai pengorbanan hingga putrinya berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter. Namun, tak pernah terbayangkan bahwa dirinya harus mengantarkan sang putri ke peristirahatan terakhir.
Di sisi lain, Inyo, pria yang dikenal mencintai dr. Icha dengan sepenuh hati, tampak terdiam dengan tatapan kosong. Kehilangan perempuan yang dicintainya menyisakan duka mendalam dan mengubah berbagai impian yang pernah mereka bangun bersama menjadi kenangan.
Kepergian dr. Icha mempersatukan keduanya dalam kesedihan yang sama, yakni kehilangan sosok perempuan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
Doa dan harapan pun terus mengalir dari keluarga serta masyarakat agar dr. Icha mendapatkan kedamaian di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Sementara itu, ayahanda dan Inyo diharapkan diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menjalani hari-hari setelah kepergian almarhumah.
[Penulis: Alex Umpain]






