DLH Aceh Barat Ajak Warga Terapkan 5 Pilar Lingkungan Bersih dan Sehat, “Dari Pilah Sampah Hingga Hemat Energi”

Meulaboh (Metrozone.net) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Aceh Barat meluncurkan panduan taktis mengenai tata cara menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan yang berbasis pada aksi rumah tangga.

Langkah preventif ini dinilai sangat penting untuk diadopsi guna menekan volume timbulan sampah sekaligus mengantisipasi potensi genangan air dan penyebaran penyakit berbasis lingkungan di wilayah Aceh Barat.

​Kepala Dinas DLH Aceh Barat, Dr. Kurdi, menegaskan bahwa potret kebersihan sebuah daerah sangat ditentukan oleh perilaku masyarakat di lingkup paling kecil, yaitu keluarga. Menurutnya, pemerintah daerah terus berupaya memaksimalkan pelayanan kebersihan, namun keterlibatan aktif warga tetap menjadi kunci utama.

​”Kita tidak bisa lagi menggunakan pola lama dalam mengelola lingkungan. Menjaga ketahanan ekologi harus dimulai dari rumah sendiri, lewat aksi-aksi sederhana yang konsisten. Lingkungan yang sehat adalah investasi jangka panjang untuk kualitas hidup generasi mendatang,” ujar Dr. Kurdi,” dalam keterangannya, Minggu (31/5-2026)

​Secara mendetail, Dr. Kurdi memaparkan lima pilar utama tata cara pengelolaan lingkungan mandiri yang dapat diterapkan oleh masyarakat, diantaranya:

​1. Sistem Pengelolaan dan Pemilahan Sampah Domestik. ​Akar dari permasalahan sampah perkotaan sering kali bermula dari percampuran seluruh jenis limbah di tingkat rumah tangga. DLH Aceh Barat mendorong warga untuk melakukan pemisahan secara ketat:

​Pilah Sejak dari Dapur: Pisahkan antara sampah organik (sisa makanan, sayuran, buah) dan sampah anorganik (plastik, botol, kertas), serta sampah bahan berbahaya (B3) seperti baterai bekas atau lampu rusak.

​Stop Membakar Sampah: Dr. Kurdi melarang keras aktivitas membakar sampah di pekarangan. Pembakaran terbuka menghasilkan gas beracun (seperti dioksin) yang merusak kualitas udara, memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan berkontribusi pada pemanasan global.

​Optimalisasi Kompos: Sampah organik yang telah dipilah disarankan diolah secara mandiri menjadi pupuk kompos. Selain mengurangi beban sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), kompos ini bernilai ekonomis untuk kesuburan tanah.

​2. Sanitasi Lingkungan dan Penerapan Gerakan 3M Plus
​Kebersihan fisik hunian berdampak langsung pada penurunan risiko penyakit menular, khususnya Demam Berdarah Dengue (DBD) dan malaria.

​Perawatan Area Rumah: Melakukan pembersihan rumah secara terjadwal untuk meminimalkan penumpukan debu, kuman, dan jamur di sudut-sudut ruangan.

​Normalisasi Saluran Air (Selokan): Warga diminta bergotong-royong atau secara mandiri membersihkan selokan di depan rumah masing-masing dari sumbatan sampah dan endapan lumpur.

Saluran air yang lancar akan mencegah banjir rob lokal saat curah hujan tinggi serta menghilangkan bau tidak sedap.

​Gerakan 3M: Menguras bak air secara rutin, menutup rapat semua tempayan atau penampungan air, dan mendaur ulang barang bekas.

Kurdi juga menekankan pentingnya mengeliminasi segala bentuk genangan air sekecil apa pun yang bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti.

​3. Manajemen Konsumsi Energi dan Air (Eco-Efficiency)
​Menjaga lingkungan juga berkaitan erat dengan bagaimana masyarakat memperlakukan sumber daya alam yang terbatas, seperti listrik dan air bersih.

​Efisiensi Daya Listrik: Membudayakan kebiasaan mematikan lampu, pendingin ruangan (AC), televisi, dan mencabut pengisi daya elektronik jika ruangan kosong atau sudah tidak digunakan.
Langkah ini efektif menekan emisi karbon dari pembangkit listrik.

​Konservasi Air Bersih: Menggunakan air secara bijak dan tidak berlebihan saat mencuci atau mandi, serta segera memperbaiki kebocoran pipa. Memastikan keran tertutup rapat setelah digunakan membantu menjaga stabilitas cadangan air tanah di lingkungan sekitar.

​4. Gerakan Pengurangan Plastik Sekali Pakai (Less Plastic Life)
​Sampah plastik masih menjadi tantangan terbesar karena sifatnya yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terurai di alam.

​Tas Belanja Mandiri: Masyarakat diimbau untuk selalu membawa kantong belanja ramah lingkungan (kain atau totebag) saat bertransaksi di pasar tradisional, swalayan, maupun pusat perbelanjaan lainnya.

​Wadah Isi Ulang: Membawa botol minum (tumbler) dan tempat makan sendiri saat beraktivitas di luar rumah guna meminimalkan ketergantungan pada kemasan plastik sekali pakai.

​5. Penghijauan dan Optimalisasi Pekarangan (Green Open Space)
​Pilar terakhir adalah menciptakan paru-paru kecil di area tempat tinggal untuk menjaga kualitas udara lokal tetap segar.

Kurdi menyarankan warga memanfaatkan pekarangan rumah baik melalui media tanah langsung maupun pot/hidroponik untuk menanam pohon peneduh atau tanaman hias. Tanaman ini berfungsi penting memproduksi oksigen (O_2), menyerap karbondioksida (CO_2), serta menjaga kelembapan dan estetika lingkungan.

​Melalui rincian panduan ini, Dinas Lingkungan Hidup Aceh Barat berharap terjadi transformasi perilaku yang masif di tengah masyarakat.

Kami optimis, jika kelima pilar ini dijalankan secara kolektif, Aceh Barat tidak hanya akan tampil lebih asri dan bersih, tetapi juga tumbuh menjadi daerah yang tangguh terhadap dampak perubahan iklim.

​”Perubahan ini harus kita kawal bersama. Pemerintah daerah menyiapkan regulasi dan fasilitas, namun kesadaran masyarakat di rumah masing-masing adalah motor penggerak utamanya,” demikian Kurdi

Penulis: Almanudar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *