Oleh : Dr. Tgk. H. Khairul Azhar, MA
( Ketua PCNU Aceh Barat)
Meulaboh (METROZONE.net ) – Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda dalam kehidupan masyarakat Muslim. Selain ibadah yang semakin intens, bulan suci ini juga melahirkan berbagai tradisi sosial yang sarat makna. Salah satu fenomena yang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir adalah tren buka puasa bersama atau yang dikenal dengan istilah bukber. Menariknya, bukber tidak hanya dilakukan di lingkungan pertemanan atau komunitas kerja, tetapi juga semakin marak dilaksanakan oleh keluarga besar.
Bagi sebagian orang, bukber mungkin hanya dipahami sebagai kegiatan makan bersama setelah seharian berpuasa. Namun jika dicermati lebih dalam, tradisi bukber keluarga besar sesungguhnya memiliki nilai sosial dan spiritual yang sangat penting. Ia bukan sekadar tren musiman, tetapi sebuah ruang untuk merawat silaturahmi yang dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat mulia.
Di tengah kehidupan modern yang serba sibuk, tidak semua anggota keluarga memiliki kesempatan untuk sering bertemu. Kesibukan pekerjaan, jarak tempat tinggal, serta berbagai aktivitas lainnya seringkali membuat hubungan keluarga menjadi renggang tanpa disadari. Dalam konteks inilah bukber keluarga besar menjadi momentum yang sangat berharga untuk kembali mempertemukan hati yang mungkin lama tidak berjumpa.
Melalui bukber, anggota keluarga dapat duduk bersama dalam suasana penuh kehangatan. Orang tua, anak-anak, paman, bibi, hingga sepupu dapat kembali saling menyapa, berbagi cerita, dan mempererat hubungan kekeluargaan.
Dalam suasana Ramadhan yang penuh berkah, pertemuan semacam ini tidak hanya memperkuat hubungan sosial, tetapi juga menjadi sarana memperhalus hati dan menumbuhkan rasa kasih sayang antar sesama anggota keluarga.
Tradisi bukber keluarga besar juga memiliki nilai pendidikan bagi generasi muda. Anak-anak dan remaja belajar bahwa keluarga adalah tempat pulang yang harus dijaga dan dihormati. Mereka menyaksikan langsung bagaimana orang tua dan para tetua keluarga memelihara hubungan persaudaraan, saling menghargai, dan menjaga keharmonisan. Nilai-nilai inilah yang pada akhirnya akan membentuk karakter sosial generasi berikutnya.
Namun demikian, perlu disadari bahwa bukber tidak boleh kehilangan ruhnya. Tradisi yang baik ini jangan sampai berubah menjadi sekadar ajang pamer tempat, menu makanan, atau kemewahan acara. Jika orientasinya hanya pada kemeriahan, maka makna spiritual Ramadhan justru akan memudar.
Sebaliknya, bukber keluarga besar seharusnya diisi dengan nilai-nilai kesederhanaan, kebersamaan, serta saling memaafkan. Momen ini dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang, menghapus kesalahpahaman, serta memperkuat kembali ikatan persaudaraan.
Ramadhan sejatinya tidak hanya mengajarkan hubungan vertikal dengan Allah melalui ibadah puasa, tetapi juga mengajarkan hubungan horizontal dengan sesama manusia melalui silaturahmi, kepedulian, dan kebersamaan.
Dalam perspektif ini, tradisi bukber keluarga besar adalah salah satu bentuk nyata dari nilai-nilai tersebut.
Karena itu, tren bukber keluarga besar patut disambut sebagai sesuatu yang positif selama tetap dijaga kesederhanaannya dan diarahkan pada penguatan ukhuwah. Ia dapat menjadi jembatan untuk merawat kehangatan keluarga sekaligus memperkuat fondasi sosial masyarakat.
Pada akhirnya, keluarga yang sering dipertemukan dalam kebersamaan akan lebih kokoh ikatan batinnya. Sebaliknya, keluarga yang jarang dipertemukan akan mudah tergerus oleh jarak dan waktu. Ramadhan memberi kita kesempatan untuk kembali menyambung yang renggang dan menguatkan yang sudah terjalin.
Maka di sinilah pentingnya kita menjaga dan melestarikan tradisi bukber keluarga besar, bukan sekadar sebagai tren Ramadhan, tetapi sebagai bagian dari budaya silaturahmi yang memperkaya kehidupan sosial umat.
Wassalam (**)










