MetroZone.Net,-
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Metro menggelar audiensi bersama anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Metro pada Jumat (27/2/2026).
Pertemuan tersebut membahas sejumlah persoalan strategis daerah, mulai dari pendidikan, pengelolaan sampah, tenaga harian lepas (THL), hingga infrastruktur dan identitas Kota Metro.
Audiensi dihadiri jajaran pimpinan cabang IMM serta Wakil Ketua II DPRD Kota Metro, Hi. Abd-ul-Hamid, S.H., M.M. Forum berlangsung dinamis dengan dialog terbuka antara mahasiswa dan legislatif.
IMM menyoroti fenomena masih banyaknya masyarakat Metro yang memilih menempuh pendidikan di luar daerah. Hal tersebut dinilai perlu menjadi bahan evaluasi bersama.
“Ada apa dengan Metro? Mengapa masyarakat masih banyak yang sekolah di luar?” menjadi salah satu pertanyaan kritis yang mengemuka dalam diskusi.
Menanggapi hal tersebut, Hi. Abd-ul-Hamid, S.H., M.M. menyampaikan bahwa persoalan pendidikan perlu dilihat secara menyeluruh, baik dari sisi kualitas, fasilitas, maupun daya saing lembaga pendidikan di Kota Metro agar mampu menjadi pilihan utama masyarakat.
Dalam audiensi tersebut, Ketua Bidang Organisasi IMM, Dimas, menyampaikan pandangan berbeda terkait branding Kota Metro.
Ia menyatakan tidak sepakat apabila Metro disebut sebagai kota pendidikan. Menurutnya, realitas yang tampak justru menunjukkan pertumbuhan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sangat pesat.
“Sepanjang Kota Metro ini, sudah berapa banyak UMKM yang tumbuh dan berkembang. Bahkan jumlahnya tidak sedikit. Karena itu, Metro lebih tepat disebut sebagai kota UMKM,” ujarnya.
Menurut IMM, geliat ratusan pelaku UMKM di berbagai sektor menjadi kekuatan riil perekonomian masyarakat yang perlu mendapat perhatian dan dukungan kebijakan.
Persoalan sampah di Kota Metro turut menjadi perhatian serius. IMM mendorong lahirnya Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur penggunaan tas belanja ramah lingkungan (totebag) di pusat perbelanjaan modern seperti Alfa dan Indonesia sebagai langkah mengurangi sampah plastik.
Mahasiswa menilai regulasi tersebut dapat menjadi solusi konkret dalam membangun kesadaran lingkungan sekaligus menekan volume sampah kota.
Selain itu, IMM juga menyinggung persoalan tenaga harian lepas (THL) yang dinilai membutuhkan kejelasan kebijakan dan perlindungan kerja.
Sekretaris Umum Pimpinan Cabang IMM Kota Metro, Rian Sukmawan, S.H., menyoroti kondisi jalan yang dinilai cepat rusak serta minimnya penerangan jalan umum.
“Jalanan sekelas kota masih banyak yang cepat rusak dan penerangannya minim. Ini tentu berdampak pada kenyamanan dan keselamatan masyarakat,” ujarnya.
Sebagai penutup, IMM menyampaikan keinginan untuk belajar secara langsung mengenai proses legislasi di DPRD Kota Metro. Mereka berharap dapat diundang dalam agenda resmi seperti sidang paripurna sebagai representasi tokoh pemuda atau tokoh masyarakat.
Audiensi tersebut diharapkan menjadi awal penguatan sinergi antara mahasiswa dan legislatif dalam mengawal kebijakan publik serta pembangunan Kota Metro yang lebih responsif dan berkemajuan.(Tim,A-PPI)






