Oleh : Dr. H. Herman, M.A
Dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh
Aceh Barat (METROZONE.net) – Setelah umat Islam bermujahadah dengan Allah SWT selama sebulan penuh di bulan suci ramadhan dengan maksud mengekohkan iman dan meningkatkan taqwa serta memperbaiki diri menjadi lebih baik dan saleh serta memohon ampun atas segala dosa-dosanya, maka pada hari raya idul fitri menjadi momentum membangun kesalehan individual dan sosial.
Kesalehan individual merupakan sikap dan perilaku yang baik, saleh dan taat kepada Allah SWT dalam menjalankan ibadah, berbuat baik dan menghindari diri dari segala noda dan dosa. Kesalehan sosial merupakan perilaku yang positif, saleh dan taat kepada Allah SWT pada saat berinteraksi dengan orang lain, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, lingkungan dan kemanusiaan.
Eksistensi hari raya idul fitri sebagai jembatan membangun kesalehan individual dalam rangka meningkat kesadaran dan keinsafan diri dalam menjalankan ibadah dengan sepenuh hati serta meningkatkan kualitas ibadah dan hubungan baik dengan Allah SWT. Kemudian meningkatkan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan dan tantangan dengan penuh harap dan kasih sayang Allah SWT serta menghindari diri dari noda dan dosa dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan esistensi hari raya idul fitri sebagai jembatan membangun kesalehan sosial dalam rangka meningkat kesadaran dan kepedulian diri terhadap orang lain, masyarakat dan lingkungan sekitar, seperti dengan keluarga, teman dan masyarakat.
Selanjutnya meningkatkan kualitas hidup dengan melakukan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti kegiatan keagamaan, kegiatan sosial dan kegiatan kemasyarakatan lainnya.
Fenomena yang muncul sekarang ini, eksistensi hari raya idul fitri nampaknya sudah melemah dalam membangun kesalehan individual dan sosial pada diri umat Islam. Kesalehan individual kembali menurun pada diri umat Islam, terutama dari segi kesadaran dan keinsafan dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT tidak seperti terlihat pada bulan suci ramadahan. Begitu juga dalam hal kesalehan sosial sangat lemah menjalin siturrahmi dengan keluarga, teman, dan masyarakat serta kepedulian terhadap orang lain dan terhadap kegiatan sosial kemasyarakatan.
Pada hal umat Islam sudah sebulan penuh bermujahadah dengan Allah SWT untuk meningkatkan kualitas ibadah dan hubungan baik Allah SWT, meningkatkan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan dan tantangan hidup serta menghindari diri dari noda dan dosa serta meningkatkan kesadaran dan keinsafan diri dalam menjalan kegiatan sosial kemasyarakatan. Tentu ini semua menimbulkan pertanyaan besar bagi kita selaku umat Islam apa faktor penyebab terjadi semua hal tersebut.
Hari raya idul fitri bagi umat Islam dikenal sebagai hari kemenangan, hari penuh kebahagian dan hari kesyukuran hamba kepada Allah SWT atas nikmat dan karunia yang telah diberikan. Tujuan hari raya idul fitri adalah untuk memperingati hari berakhirnya bulan suci ramadhan dan saat kita memulai bulan baru dengan penuh harapan dan kesyukuran. Kemudian untuk meningkatkan kesadaran dan keinsafan diri dalam menjalankan ibadah dan kegiatan sosial serta mengembangkan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan dan tantangan dalam kehidupan sehari-hari.
Hari raya idul fitri harus dijadikan sebagai wadah untuk membangun kesalehan individual dan sosial dalam masyarakat. Sangat dhaif kalau kita selaku umat Islam sudah ditempa, digebleng, dan dilatih akal serta diasuh hati dengan berbagai macam kigiatan ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah di bulan suci ramadhan ternyata masih lemah kesalehan individual dan sosial di tengah-tengah masyarakat.
Eksistensi hari raya idul fitri dalam membangun kesalehan individual dan sosial memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Eksistensi hari raya idul fitri dalam membangun kesalehan individual senantiasa meningkat kesadaran dan keinsafan diri dalam melaksanakan ibadah dan meningkatkan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan dan tantangan hidup serta menghindari diri dari segala noda dan dosa dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan eksistensi hari raya idul fitri dalam membangun kesalehan sosial senantiasa meningkat kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat serta lingkungan sekitar dan meningkat hubungan sosial dengan orang lain serta meningkatkan kualitas hidup dengan melakukan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Kesalehan Individual
Eksistensi hari raya idul fitri dalam membangun sikap dan perilaku kesalehan individual yang telah digembleng, dilatih dan dipupuh selama sebulan penuh dalam bulan suci ramadhan harus terlihat nyata dalam sikap dan perilku umat Islam. Sikap dan perilaku kesalehan individual dapat terwujud bila umat Islam memiliki kesadaran dan keinsafan diri melaksanakan ibadah dengan sepenuh hati serta meningkat kualitas ibadah dan memiliki hubungan dengan Allah SWT dengan penuh keikhlasan, serta memiliki kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan dan tantangan hidup serta sanggup menghindari diri dari segala noda dan dosa dalam hidupnya.
Mengucapkan takbir pada hari raya idul fitri sebagai bukti nyata pengakuan umat Islam mentauhidkan Allah SWT dengan ungkapan tiada Tuhan yang berhak disembah hanya kepada Allah SWT dan tiada Tuhan tempat kita memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT. Pengucapan takbir tersebut sekaligus sebagai wujud mengakui keberadaan dan kekuasaan Allah SWT.
Melaksanakan shalat pada hari raya idul fitri sebagai bentuk keinsafan dan kesadaran diri untuk menjalankan mahdhah seperti shalat, puasa, zakat, dan naik haji bagi yang mampu. Shalat pada hari raya idul fitri yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan kepada Allah SWT tentu akan menguatkan kesalehan individual umat Islam kepada Allah SWT.
Zikir dan doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT pada hari raya idul fitri sebagai jembatan mengingat kita supaya setiap hari selesai melaksanakan shalat dalam sehari semalam lima waktu kita tidak boleh lupa berzikir dan berdoa kepada Allah SWT untuk menjadi prisai dalam hidupnya. Karena zikir dan doa yang kita panjatkan selesai shalat dalam sehari semalam lima waktu dapat meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Allah SWT.
Kesadaran dan keinsafan membaca membaca Al-Qur’an yang sudah menjadi panggilan hati dalam bulan suci ramadhan dikukuhkan menjadi jembatan memulai bulan baru dengan penuh harapan dan kesyukuran kepada Allah SWT melalui membaca Al-Qur’an sepanjang waktu.
Sikap yang tidak baik selalu dihindari selalu dijaga agar tidak mendatangkan dosa dan kemaksiatan pada dirinya, maka menjadi jembatan kita bersikap konsisten dan komitmen tidak lagi melakukan hal-hal yang tidak mendatang manfaat untuk dirinya dan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
Kesalehan Sosial
Eksistensi hari raya idul fitri dalam membangun sikap kesalehan sosial yang telah digembleng dan dipupuh selama bulan suci ramadhan harus terlihat nyata dalam kehidupan masyarakat. Sikap kesalehan sosial akan terwujud bila umat Islam memiliki kesadaran dan keinsafan melaksanakan ibadah sosial. Kesadaran dan keinsafan melaksanakan ibadah sosial tersebut diwujudkan dengan cara memberikan bantuan sosial kepada orang yang membutuhkan, berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan, dan kegiatan kemanusiaan.
Memberikan bantuan sosial kepada orang lain yang membutuhkan, seperti membantu orang miskin, anak yatim, dan korban bencana pada bulan suci ramadhan harus dijadikan sebagai jembatan membentuk karakter sosial umat Islam.
Karakter sosial yang dibangun tersebut menjadi jembatan untuk terus melakukan ibadah ghairu mahdhah dan menjadi penolong bagi umat yang membutuhkan bantuannya.
Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti kegiatan keagamaan, kegiatan sosial, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya harus dijadikan sebagai jembatan melakukan perubahan sosial yang positif bagi masyarakat dan umat. Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatn tidak hanya sekedar dalam bentuk spirituil semata, tetapi ikut serta memberikan bantuan dalam bentuk materil demi untuk kepentingan umat.
Kemudian juga harus ikut berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan, seperti kegiatan kebersihan, kegiatan konservasi, dan kegiatan lingkungan lainnya supaya lingkungan tempat tinggal selalu nyaman dan damai bagi masyarakat dan umat. Berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan harus selalu ada bersama tokok masyarakat (Tomas) dan tokoh agama (Toga) di tengah-tengah masyarakat.
Selanjutnya ikut juga berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan, seperti kegiatan bantuan kemanusiaan, kegiatan kesehatan, dan kegiatan kemanusiaan lainnya sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan harus menjadi perhatian penting dalam mewujudkan kesuksesan kegiatan kemanusiaan tersebut.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa eksistensi hari raya idul fitri dalam membangun kesalehan individual dan sosial memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari bagi umat Islam..
Eksistensi dalam membangun kesalehan individual senantiasa meningkat kesadaran dan keinsafan diri untuk melaksanakan ibadah dengan penuh keikhlasan dan meningkatkan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan dan tantangan dalam hidup serta sanggup menghindari diri dari segala noda dan dosa dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan eksistensi hari raya idul fitri dalam membangun kesalehan sosial senantiasa meningkat kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat serta lingkungan sekitar dan meningkat hubungan sosial dengan orang lain serta meningkatkan kualitas hidup dengan cara melakukan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan di tengah-tengah masyarakat (*)