**Opini Dagelan**
Oleh :GUSTIONE
Wong Katrok,
Di dunia hobi, persaudaraan, maupun organisasi, satu hal yang paling mahal harganya adalah ilmu dan wawasan, sedangkan hal yang paling murah dan mudah didapat hanyalah suara tanpa dasar. Kita sering kali menjumpai orang-orang yang begitu lantang bersuara, begitu cepat menghakimi, begitu gencar memberi pendapat, padahal hakikatnya mereka belum paham apa-apa. Mereka bicara bukan karena tahu, melainkan sekadar ingin terdengar ada, ingin terlihat hebat, atau sekadar ingin dianggap pemimpin. Inilah definisi nyata dari pepatah lama: “Tong kosong berbunyi nyaring.”
Peribahasa ini bukan sekadar kiasan belaka, melainkan cermin nyata dari karakter manusia. Semakin sedikit isi pengetahuan dan pemahaman seseorang, semakin keras suaranya. Sebaliknya, orang yang benar-benar paham, orang yang benar-benar menguasai materi, orang yang memegang prinsip dan aturan, mereka justru berbicara dengan tenang, terukur, dan berbobot. Mengapa? Karena mereka sadar, bahwa bicara itu mudah, tapi mempertanggungjawabkan apa yang diucapkan itu berat.
Dalam konteks Komunitas Kolongan Merpati Tinggi,
atau dalam setiap kegiatan yang kita bangun bersama, hal ini menjadi sangat penting. Kita memiliki aturan, kita memiliki kesepakatan, kita memiliki makalah atau landasan bersama yang menjadi pedoman langkah.
Makalah, aturan dasar, atau kesepakatan bersama itu bukan ditulis semata untuk hiasan di atas kertas, melainkan sebagai landasan, sebagai hukum tertulis yang menyatukan visi dan misi kita. Sayangnya, masih banyak di antara kita yang dengan santainya beropini, membuat keributan, hingga memecah belah persaudaraan, padahal belum pernah sekalipun membaca, mempelajari, apalagi menguasai isi makalah dan aturan tersebut.
Sungguh naif dan memalukan jika seseorang berani angkat bicara, berani menyalahkan, berani mengkritik tata cara organisasi, padahal ia sendiri buta akan aturan mainnya. Bagaimana mungkin kita membahas jalan keluar, jika kita bahkan tidak tahu peta arahnya? Bagaimana mungkin kita mengajarkan kedisiplinan, jika kita sendiri malas membaca aturan? Orang seperti ini, suaranya mungkin paling keras di depan, tapi isinya kosong melompong. Bicaranya hanya debu yang beterbangan, sesaat terlihat banyak, namun tak lama kemudian hilang tak berbekas dan tak memberi manfaat apa-apa.
Oleh karena itu, mari kita tanamkan prinsip emas ini: Pelajari dan kuasai makalah dulu, baru angkat bicara. Jangan membalikkan fakta, jangan memutarbalikkan aturan hanya karena ego semata. Jika kamu ingin bicara, pastikan apa yang kamu ucapkan berlandaskan ilmu, berlandaskan aturan, dan berlandaskan kebenaran. Bicara lah berdasarkan apa yang kamu ketahui, bukan berdasarkan apa yang kamu dengar dari orang lain. Bicara lah dengan data, dengan fakta, dan dengan pemahaman yang matang.
Ingatlah, kualitas suara tidak ditentukan oleh seberapa keras kamu berteriak, melainkan oleh seberapa benar dan seberapa bermanfaat isi perkataanmu. Sebuah bejana yang penuh air akan selalu berbunyi pelan saat dipukul, namun bunyinya merdu dan terasa mendalam. Sedangkan bejana yang kosong, hanya akan menimbulkan suara nyaring, bising, dan menyakitkan telinga.
Untuk itu, kepada seluruh sahabat, anggota, dan rekan-rekan penghobi, mari kita tinggalkan sifat “tong kosong”. Mari kita budayakan membaca, memahami, dan mendalami aturan main kita. Kuasai dulu landasan kita, pahami dulu kesepakatan kita, baru setelah itu sampaikan pendapat, kritik, atau masukan. Jadilah orang yang berisi, yang bicara satu kali saja, tapi orang lain akan diam mendengarkan karena tahu ilmunya luas. Jangan jadi orang yang kosong, yang berteriak seharian, namun tak satu pun orang yang peduli karena tahu bicaranya tak punya dasar.
Karena pada akhirnya, orang berilmu berbicara karena ia punya sesuatu untuk dikatakan; sedangkan orang bodoh berbicara karena ia merasa harus mengatakan sesuatu. Jadilah orang yang berilmu, beretika, dan berwawasan. Pelajari, pahami, kuasai, baru kemudian bicara.***





