Banyuwangi, Metrozone.net- Di balik rimbunnya vegetasi yang menyelimuti Puncak Puthuk Giri, Kelurahan Giri, Banyuwangi, tersembunyi sebuah situs yang menjadi magnet spiritual bagi ribuan pencari keberkahan. Sebuah pusara yang nyaris tak pernah mengenal kata sepi, tempat peristirahatan terakhir sosok perempuan agung, Makam Buyut Sayu Atika.
Meski lokasinya terisolasi dari keriuhan permukiman warga, aura sakral di area makam ini seolah tak pernah memudar. Keheningan bukit justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para peziarah yang datang silih berganti demi merapal doa di hadapan makam yang dikeramatkan tersebut.
Bagi masyarakat lokal, Makam Buyut Sayu Atika atau yang akrab disapa Eyang Putri Atika bukan sekadar situs sejarah. Tempat ini telah menjelma menjadi destinasi wisata religi primer yang mempertemukan peziarah lintas daerah, mulai dari warga lokal Banyuwangi hingga luar daerah.
Kendati bertakhta di atas perbukitan, aksesibilitas menuju lokasi ini tergolong mumpuni. Para peziarah memiliki beberapa opsi jalur pendakian, salah satunya adalah rute yang membelah keheningan di belakang Masjid Baitul Ma’wa, tepat di tepian Jalan Raden Wijaya, Lingkungan Payaman, Giri.
Sang juru pelihara makam, Jum’ali dengan penuh ketelatenan merawat memori kolektif tentang sosok Dewi Sayu Atika. Menurut penuturannya, tokoh yang bersemayam di bukit ini tak lain adalah Dewi Sekardadu, sosok ibu yang melahirkan salah satu poros utama dakwah Islam di tanah Jawa. Jum’at (17/5/2026).
“Beliau adalah ibunda dari Sunan Giri. Dari buah pernikahan Dewi Sekardadu dengan Syekh Maulana Ishak, lahirlah bayi yang menjadi pilar penyebar agama Islam yang kita kenal sebagai anggota Wali Songo,” ujar pria yang akrab disapa Ali.
Riwayat Dewi Sekardadu sendiri berkelindan erat dengan kemegahan Kerajaan Blambangan. Ia merupakan putri kesayangan Prabu Minak Sembuyu, penguasa tanah Blambangan di masa silam, yang hidup dalam pusaran takdir yang penuh dengan dramatisme sejarah.
Kala itu, konon tanah Blambangan sedang dihantam badai pagebluk yang mengerikan. Sebuah fenomena mistis di mana warga yang sakit di pagi hari akan menjemput ajal pada petang harinya, menciptakan suasana horor yang mencekam di seantero kerajaan.
Di tengah situasi karut-marut tersebut, sang putri jatuh sakit secara misterius. Tak ada tabib yang mampu memberikan kesembuhan, hingga akhirnya Prabu Minak Sembuyu menggelar sayembara, siapa pun yang sanggup mengusir wabah dan menyembuhkan putrinya, akan dinikahkan dengan sang dewi.
Syeh Maulana Ishak, seorang ulama kharismatik, yang berhasil menundukkan wabah tersebut dan memulihkan kesehatan Dewi Sekardadu. Janji raja pun ditepati, keduanya pun bersatu dalam ikatan pernikahan yang sah.
Namun, kedamaian itu hanya sekejap mata. Eksistensi Maulana Ishak perlahan mulai memicu resistensi dari sang mertua dan para elite kerajaan. Tuduhan demi tuduhan dialamatkan kepadanya, dianggap membawa pengaruh agama baru yang mengancam tatanan Hindu kala itu.
Gesekan ideologi yang kian meruncing memaksa Maulana Ishak mengambil keputusan pahit. Ia memilih untuk meninggalkan bumi Blambangan demi menghindari konflik yang lebih besar, meninggalkan istrinya yang tengah mengandung.
Prahara tak berhenti di sana. Kemarahan Minak Sembuyu yang meluap berujung pada pengusiran Dewi Sekardadu. Bahkan, sang raja memerintahkan bawahannya untuk membuang cucunya sendiri yang baru lahir, menempatkan sang bayi dalam peti kayu yang dipaku rapat lalu dilarung ke samudra luas.
Teriris oleh duka lara yang tak tertahankan, naluri keibuan Dewi Sekardadu memberontak. Tanpa mempedulikan keselamatan nyawanya, ia mengejar peti tersebut, menerjang ombak yang mengganas demi menjangkau buah hatinya yang terombang-ambing di lautan.
Nahas, alam berkehendak lain. Sang dewi gagal menyelamatkan bayinya dan ikut tergulung oleh keganasan ombak hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir. Kisah tragis penuh pengorbanan inilah yang hingga kini terus dikenang oleh mereka yang bersimpuh di Puncak Giri.
Editor: 5093N9






