Goncangan Moral di Gampong, Jabatan Pj Keuchik Jadi Rebutan, Tata Kelola Desa di Aceh Barat Terancam

Meulaboh (Metrozone.net) – Stabilitas keamanan dan sosial di tingkat gampong (desa) di Kabupaten Aceh Barat dilaporkan tengah berada dalam di fase yang mengkhawatirkan. Fenomena saling lapor dan upaya menjatuhkan jabatan Keuchik definitif demi mengejar posisi Penjabat (PJ) Keuchik disinyalir menjadi pemicu utama keretakan hubungan antarwarga.

​Keuchik Pasi Janeng, Kecamatan Woyla Timur, Ifril Yadi, S.Pd, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi yang melanda hampir seluruh gampong di Aceh Barat saat ini. Menurutnya, para Keuchik kini bekerja di bawah tekanan moral yang tidak sehat.

​”Saat ini gampong-gampong sedang mengalami guncangan hebat. Ada ambisi dari sebagian orang untuk menduduki jabatan PJ dengan cara mencari-cari kesalahan Keuchik yang sedang menjabat. Ini adalah pemahaman yang keliru dan berbahaya bagi persatuan desa,” ungkap Ifril Yadi dalam keterangannya, Senin (13/4/2026)

​Ifril menganalisis bahwa situasi ini merupakan kelanjutan dari “intrik panas” pasca Pemilihan Keuchik Langsung (Pilchiksung) serentak pada tahun 2022. Persaingan politik yang belum tuntas di akar rumput dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menciptakan mosi tidak percaya.

​Ia memperingatkan bahwa jika masalah ini terus dibesar-besarkan, potensi kerusuhan dan ketidakkompakan antarwarga tidak dapat dihindari. “Kita baru saja melewati Pilchiksung 2022, sisa-sisa persaingan itu masih ada. Jangan ditambah lagi dengan bumbu-bumbu perebutan jabatan yang bisa memicu perpecahan berkepanjangan,” tambahnya.

Menurutnya, ​konflik yang timbul akibat ambisi jabatan ini diprediksi akan berdampak sistemik pada kehidupan bermasyarakat, di antaranya:
​Stagnasi Administrasi: Fokus Keuchik terpecah antara melayani warga dan menghadapi tekanan politik, sehingga tata kelola pemerintahan desa melambat.

​selain itu, kata Ifril Yadi, munculnya kubu-kubu (faksi) di dalam desa yang merusak semangat gotong royong. Kegiatan keagamaan, adat istiadat, dan pelaksanaan reusam gampong akan terhambat karena warga tidak lagi sejalan. Ifril Yadi secara khusus menyoroti potensi pecahnya kekompakan pemuda desa yang seharusnya menjadi pilar pembangunan.

​Menyikapi kondisi tersebut, Ifril Yadi meminta agar Pemerintah Kabupaten melakukan evaluasi mendalam untuk mengembalikan suasana kondusif di tingkat desa. Ia juga menegaskan bahwa para aparatur desa tetap memberikan dukungan kepada kepemimpinan Bupati Aceh Barat dalam upaya menstabilkan roda pemerintahan.

​”Kami mendukung langkah Bapak Bupati Aceh Barat. Kami yakin ada tujuan baik untuk masa depan daerah ini. Namun, kami berharap setiap permasalahan Keuchik dapat diselesaikan secara arif dan bijaksana di tingkat desa tanpa harus menciptakan konflik horizontal yang merugikan masyarakat luas,” ujarnya

Diakhir pernyataannya, Keuchik Pasi Janeng menyampaikan petuah Haba ureung tuha ” Lagak Tanoh Gle tapula jagoeng beurkat lam gampong mantong hudep ureung tuha
Peurle keu kong pageu pula bak keulundong
peurle keu kong gampong beuna kesatuan bak aneuk muda
Aneuk muda beu lagei u muda
ie mameh asoe meurasa
Aneuk muda bek lage u groh
ie be chueng asoe payah boh
Ureung Tuha beuna Tuho
Bek sampe meucawo lam alam nyata

Penulis: Almanudar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *